TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat penjaminan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui pelaksanaan Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar). Survei ini menjadi instrumen evaluasi internal untuk memotret kualitas layanan sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan peningkatan mutu pendidikan.
Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemendikdasmen, Kurniawan, mengatakan Sulingjar merupakan salah satu upaya memastikan setiap anak Indonesia memperoleh layanan PAUD yang berkualitas.

"Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui Sulingjar. Survei ini menjadi instrumen penting untuk memotret kondisi nyata di lapangan, baik dari sisi kualitas pembelajaran, dukungan lingkungan, maupun kebutuhan satuan pendidikan, khususnya di satuan PAUD," ujar Kurniawan dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 18 Juli 2026.
Ia menegaskan, partisipasi dalam Sulingjar tidak semata-mata karena imbauan pemerintah, melainkan harus lahir dari kesadaran dan komitmen setiap satuan PAUD untuk terus meningkatkan mutu layanan.
Kurniawan mengungkapkan, pada 2025 tingkat partisipasi satuan PAUD dalam Sulingjar telah mencapai 91,72 persen atau sekitar 186.871 satuan PAUD di seluruh Indonesia. Capaian tersebut menjadi modal penting menyambut pelaksanaan Sulingjar PAUD 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Juli hingga 17 Agustus 2026.
Menurutnya, data yang dihasilkan dari Sulingjar bukan sekadar angka, melainkan fondasi penting dalam penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
"Data yang valid bukan hanya sekadar angka, melainkan fondasi bagi penyusunan kebijakan yang tepat sasaran. Mari kita jadikan Sulingjar sebagai gerakan bersama untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapat layanan PAUD bermutu sebagai bekal mereka dalam menapaki masa depan," ucapnya.
Sementara itu, perwakilan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Meni Handayani, menjelaskan Sulingjar merupakan bentuk evaluasi internal yang mendorong satuan PAUD melakukan refleksi terhadap kualitas layanan yang diberikan.
Hasil survei kemudian diolah dan disajikan kembali kepada satuan pendidikan melalui Rapor Pendidikan sebagai bahan menyusun program peningkatan mutu. Menurut Meni, hingga saat ini lebih dari 91 persen satuan PAUD telah mengisi Sulingjar secara memadai sehingga hasilnya dapat ditampilkan pada platform Rapor Pendidikan.
"Melalui pemanfaatan Sulingjar dan Rapor Pendidikan, kami berharap satuan PAUD mampu mengidentifikasi prioritas perbaikan, menyusun program sesuai kebutuhan, serta membangun budaya refleksi dan peningkatan mutu secara berkelanjutan," kata Meni Handayani.
Di sisi lain, perwakilan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Seto Setiawan, menekankan pentingnya validitas data dalam menyukseskan pelaksanaan Sulingjar PAUD 2026.
Ia menjelaskan seluruh data responden bersumber dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga setiap satuan PAUD perlu memastikan data guru dan kepala satuan pendidikan telah diperbarui, lengkap, dan valid sebelum pelaksanaan survei.
"Data yang telah tervalidasi menjadi dasar penetapan responden Sulingjar. Data yang belum lengkap, seperti Nomor Induk Kependudukan atau tanggal lahir yang belum terisi, tidak dapat digunakan untuk mengakses aplikasi Sulingjar," jelas Seto.
Ia menambahkan, keberhasilan pelaksanaan Sulingjar membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari satuan pendidikan hingga kepala sekolah. Selain mendukung kelancaran survei, data yang valid juga menjadi dasar penyusunan kebijakan, program pembinaan, serta peningkatan mutu layanan PAUD di Indonesia.










