TVRINews, Kendari
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik baru. Ia menekankan tidak boleh ada lagi praktik perpeloncoan maupun perundungan di lingkungan sekolah.

"Tidak boleh ada pembulian, tidak boleh ada kekerasan. Jadikan sekolah sebagai rumah kedua buat kita semua," kata Fajar Riza Ul Haq dalam keterangan yang dikutip, Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam kunjungannya, Fajar berdialog langsung dengan para siswa mengenai pengalaman mereka selama mengikuti MPLS. Ia juga mengajak peserta didik menyanyikan lagu Rukun Sama Teman serta mengulas kembali materi yang telah diterima selama lima hari kegiatan.
Menurut Fajar, MPLS tidak hanya bertujuan memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi momentum menanamkan karakter, membangun rasa percaya diri, dan menciptakan budaya sekolah yang menghargai setiap peserta didik sejak hari pertama.
Ia mengatakan salah satu materi yang paling banyak diingat siswa adalah etika bermedia sosial. Para peserta didik memahami pentingnya menggunakan ruang digital secara bijak, menghormati karya orang lain, menghindari plagiarisme, serta tidak menyebarkan ujaran yang menyakiti orang lain.
Selain literasi digital, Fajar mengingatkan pentingnya membiasakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, hingga tidur lebih awal.
"Karakter yang kuat dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Sekolah memiliki peran penting untuk membentuk kebiasaan tersebut sejak awal peserta didik memasuki lingkungan pendidikan," ujarnya.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari juga mengedepankan pendekatan yang interaktif. Alih-alih berorientasi pada kegiatan seremonial, sekolah mengajak siswa mengenal lingkungan melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, dan eksplorasi berbagai fasilitas sekolah.
Panitia MPLS Ramah SMP Negeri 15 Kendari, Yudi Eritman, mengatakan konsep tersebut dirancang agar peserta didik dapat beradaptasi dengan suasana sekolah secara lebih menyenangkan.
"Anak-anak belajar mengenal lingkungan sekolah sambil bermain dan bekerja sama. Dengan cara itu mereka lebih cepat beradaptasi sekaligus merasa nyaman berada di sekolah," ujar Yudi.
Pengalaman positif itu dirasakan Natan Raditya, salah seorang peserta didik baru. Ia mengaku sempat khawatir akan menghadapi perpeloncoan sebelum memasuki jenjang SMP. Namun, kekhawatiran tersebut tidak terbukti setelah mengikuti MPLS Ramah.
"Awalnya saya takut dibully atau diperlakukan tidak baik oleh kakak kelas. Ternyata tidak ada sama sekali. Kegiatannya seru, banyak permainan, materinya menarik, dan guru-gurunya ramah," kata Natan.
Melalui penerapan MPLS Ramah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap seluruh sekolah di Indonesia menghadirkan masa pengenalan yang bebas dari kekerasan, memperkuat pendidikan karakter, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi setiap peserta didik.










