TVRINews, Yogyakarta
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) saat menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta, Jumat, 17 Juli 2026.
Pratikno menegaskan bahwa seluruh satuan pendidikan, termasuk pesantren, harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak serta terbebas dari segala bentuk kekerasan.
"Melalui gerakan ini kita berusaha keras membangun ruang aman dan nyaman untuk anak. Kita sering kali tidak menyadari bahwa yang terjadi itu adalah bentuk kekerasan. Misalnya kekerasan psikis seperti menertawakan, membacakan keburukan anak, menyebut anak dengan panggilan yang tidak bagus, dan menakut-nakuti," ujar Pratikno dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurutnya, kekerasan terhadap anak dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari rumah, sekolah, madrasah, pesantren, hingga ruang publik dan ruang digital. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama agar anak Indonesia dapat tumbuh dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Kemudian, Pratikno menjelaskan bahwa dampak kekerasan terhadap anak sangat besar, mulai dari menurunnya konsentrasi belajar hingga terganggunya kondisi psikologis dan perkembangan kognitif. Ia menegaskan bahwa proses pendisiplinan anak tetap dapat dilakukan tanpa menggunakan kekerasan.
Sebagai langkah konkret, Pratikno memperkenalkan "Tujuh Langkah Menuju Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman". Tujuh langkah tersebut meliputi evaluasi sistem perlindungan anak, pembentukan tim perlindungan anak, penyusunan kebijakan perlindungan, pembangunan sistem pengaduan yang ramah anak, pelatihan berkelanjutan bagi pengasuh, penguatan budaya saling menjaga, serta pelibatan orang tua dan masyarakat dalam pencegahan maupun penanganan kekerasan terhadap anak.
Selain menyoroti perlindungan anak, Pratikno juga mendorong pesantren untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, transformasi perlu dilakukan agar pesantren tetap kompetitif tanpa kehilangan identitas kultural dan spiritualnya.
"Transformasi harus dilakukan secara besar-besaran dengan tetap memperkokoh identitas kultural dan spiritual pesantren. Transformasi harus dilakukan agar pesantren bisa lebih kompetitif di zaman yang baru ini," tegasnya.
Pratikno turut mengapresiasi inisiatif RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU dalam mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan nyaman bagi anak. Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya dalam memperkuat perlindungan anak sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.










