TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengapresiasi pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah di sejumlah sekolah di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, program tersebut menjadi langkah awal yang baik untuk membangun karakter peserta didik sekaligus menciptakan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Hal itu disampaikan Abdul Mu'ti saat meninjau pelaksanaan MPLS di SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar, SD Negeri 1 Sumbawa, dan SD Negeri 14 Sumbawa, Jumat, 17 Juli 2026.
"Alhamdulillah saya mengunjungi beberapa sekolah. Saya melihat pelaksanaan MPLS di sekolah-sekolah ini sangat bagus, beberapa program yang menjadi kebijakan kami, seperti 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), kemudian keceriaan dengan menyanyi lagu Hari Baru, serta membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman dengan membiasakan mereka hidup rukun," ujar Abdul Mu'ti dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 18 Juli 2026.

Ia menegaskan, keberhasilan MPLS tidak hanya diukur dari pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga dari keberhasilannya menanamkan kebiasaan positif sejak hari pertama peserta didik memasuki sekolah.
Menurut Abdul Mu'ti, penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan pembiasaan hidup rukun harus terus dilanjutkan setelah MPLS berakhir agar menjadi budaya sekolah yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat menerapkan kebiasaan baik yang kita sebut 7 KAIH dan juga membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Mulainya tentu dari awal ketika MPLS. Semoga ini bisa jadi awal yang baik buat kita," ucapnya.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SD Negeri 14 Sumbawa sendiri dirancang agar peserta didik baru merasa nyaman sejak hari pertama. Selama lima hari kegiatan, siswa diajak mengenal konsep 7KAIH, belajar hidup rukun, bernyanyi, bermain, dan berinteraksi dengan teman-teman baru.
Kepala SD Negeri 14 Sumbawa, Asminingsih, mengatakan sekolah juga menggelar pra-MPLS dengan melibatkan orang tua melalui sosialisasi rangkaian kegiatan agar proses adaptasi peserta didik berlangsung lebih optimal.
Guru kelas I SD Negeri 14 Sumbawa, Kristina, menambahkan bahwa selama MPLS peserta didik tidak langsung dibebani kegiatan belajar, melainkan diajak mengenal lingkungan sekolah melalui aktivitas yang menyenangkan. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan.
Antusiasme peserta didik juga terlihat di SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar. Salah seorang siswa baru, Defli, mengaku kegiatan MPLS membantunya mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru dalam suasana yang nyaman.
Sementara itu, Kepala SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar, Jon Kennedi, menegaskan sekolah menerapkan konsep MPLS bebas perundungan melalui berbagai aktivitas yang mendorong peserta didik saling mengenal, berinteraksi, dan berkolaborasi sejak awal memasuki lingkungan sekolah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya sekolah yang inklusif, aman, dan saling menghargai.










