TVRINews – Jakarta
Terobosan B50 era Presiden Prabowo hemat devisa ratusan triliun dan selamatkan ekonomi nasional.
Pemerintah Indonesia secara resmi menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menyusul dimulainya implementasi kebijakan biodiesel B50, Guna mempertegas komitmen nasional dalam memperkuat ketahanan energi serta menekan ketergantungan pada komoditas fosil dari luar negeri.
Program yang mencampurkan 50 persen minyak kelapa sawit (CPO) dan 50 persen solar tersebut beroperasi penuh sejak Juli 2026, atau kurun waktu kurang dari dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui kebijakan ini, porsi penggunaan bahan bakar nabati dalam negeri mengalami peningkatan signifikan dari program terdahulu, B40. Selain menjamin pasokan energi dalam negeri, Indonesia diproyeksikan mencatatkan surplus pasokan solar sebesar empat juta kiloliter pada tahun berjalan.
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi keberhasilan transformasi energi tersebut dalam acara peluncuran resmi di Karawang.
"Implementasi B50 memastikan Indonesia tidak lagi melakukan impor solar untuk pertama kalinya dalam sejarah," ungkap Bahlil dalam keterangannya yang dirilis Badan Komunikasi Pemerintahan RI pada Minggu 11 Oktober 2026.
Kementerian ESDM mencatat keberhasilan peralihan ke B50 berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun sepanjang tahun 2026, naik 27,5 persen dibandingkan pencapaian program B40 tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp133,33 triliun.
Secara makroekonomi, efisiensi anggaran dalam jumlah besar ini memegang peranan krusial untuk menopang stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di samping itu, penguatan penyerapan komoditas sawit domestik bernilai tambah Rp23,49 triliun ini diperkirakan bakal membuka lapangan kerja bagi 2,1 juta tenaga kerja serta menjaga harga pasaran Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani lokal dari fluktuasi pasar internasional.
Dari aspek lingkungan, transisi energi bersih ini ditargetkan sanggup mereduksi emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton karbon dioksida pada tahun 2026. Skema B50 menjadi bagian utama dari agenda transisi energi nasional yang juga mencakup pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak serta pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Pemerintah kini tengah melakukan pengkajian teknis bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memetakan peluang penerapan formulasi biodiesel lanjutan, mulai dari B60 hingga B100.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan pijakan awal menuju kedaulatan penuh sektor energi nasional.
"Pencapaian kemandirian melalui B50 membuktikan bahwa bangsa ini mampu menyelesaikannya tanpa perlu mengimpor solar lagi. Ini adalah sebuah prestasi nasional yang sangat luar biasa," ujar Presiden Prabowo. di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.










