TVRINews - Jakarta
Hasil simulasi KNKT memastikan gangguan sistem digital dan salah paham komunikasi menjadi akar masalah insiden di Bekasi.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mempublikasikan temuan awal terkait insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada akhir April lalu.
Investigasi resmi menyimpulkan bahwa kegagalan sistemik pada indikator persinyalan dan kendala komunikasi visual menjadi faktor penentu peristiwa tersebut.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa dugaan keterlibatan faktor eksternal, seperti kendaraan roda empat di sekitar lokasi, resmi dipatahkan.
"Penyebab kecelakaan tersebut bukan berasal dari temperan taksi Green SM atau taksi hijau, melainkan karena adanya anomali persinyalan antara Stasiun Bekasi - Stasiun Bekasi Timur, permasalahan komunikasi, dan ketidakdisplinan pengatur jalur rel kereta api," ujar Soerjanto di hadapan anggota legislatif.
Kegagalan Deteksi Sistem Persinyalan
Berdasarkan data operasional yang dihimpun, kegagalan teknis utama berpusat pada ketidakmampuan infrastruktur di Stasiun Bekasi untuk mengidentifikasi posisi rangkaian kereta lain. Sistem gagal membaca keberadaan KRL KA 5568A yang pada saat itu tengah berhenti dalam posisi normal di Stasiun Bekasi Timur.
Rangkaian simulasi rekonstruksi yang digelar oleh KNKT bersama sejumlah otoritas terkait mengungkap adanya ketidakselarasan indikator lampu pembatas jalur:
• Sinyal Keluar Stasiun Bekasi: Menunjukkan indikator aman (lampu hijau).
• Sinyal Pengulang: Menunjukkan indikator tidak aman (garis datar).
• Sinyal Blok: Menunjukkan indikator bahaya (lampu merah).
Secara teknis, papan mekanis persinyalan keluar di Stasiun Bekasi seharusnya menampilkan lampu kuning sebagai tanda peringatan agar masinis berhati-hati, mengingat status jalur di depannya masih berada dalam kondisi tidak aman atau berstatus merah.
Polusi Cahaya Pemukiman Hambat Jarak Pandang
Selain anomali pada sistem digital, penyelidikan visual di lapangan menunjukkan adanya kendala eksternal yang signifikan bagi awak kabin.
Masinis KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan kesulitan memverifikasi aspek sinyal pengulang pada petak jalur antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.
Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya intensitas pencahayaan dari wilayah pemukiman penduduk dan aktivitas pasar di sepanjang koridor rel, yang menyamai karakteristik warna lampu peringatan kereta.
"Kami mengikut di dalam kabin lokomotif, juga di kabin KRL, kita melihat malam situasinya.
Jadi masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel," kata Soerjanto menjelaskan hasil evaluasi langsung tim investigasi.
Fragmentasi Saluran Komunikasi Radio
Aspek krusial lain yang disorot oleh KNKT adalah fragmentasi penggunaan perangkat komunikasi nirkabel antar-armada.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa masing-masing masinis beroperasi pada sistem radio dan wilayah kendali yang berbeda, sehingga memicu keterbatasan koordinasi:
• KA 5181: Menggunakan perangkat Radio Tait di bawah wilayah komunikasi S.27 (Pengatur Perjalanan Kereta Api Terpusat/PK Selatan).
• KA 5568A: Menggunakan perangkat Radio Sepura, berada di wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan).
• KA 4B: Menggunakan Radio Lokomotif standar, berada di bawah kendali wilayah komunikasi S.1 (PK Timur).
Kombinasi antara anomali pembacaan sistem otomatis, gangguan visual akibat paparan cahaya lingkungan, serta kendala transmisi radio antar-stasiun dan awak kereta ini disimpulkan sebagai faktor integratif yang melandasi terjadinya kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.










