TVRINews, Banda Aceh
Influencer kesehatan sekaligus dokter anak, Aslinar Riava mengajak media massa ikut berperan aktif melawan hoaks seputar imunisasi demi meningkatkan cakupan vaksinasi anak di Aceh.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan “Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing Mengejar Anak Zero Dose Imunisasi” di Kota Banda Aceh.
Dalam paparannya, Aslinar menyoroti masih banyaknya pemberitaan mengenai efek samping imunisasi yang tidak diimbangi dengan informasi klarifikasi dari tenaga kesehatan maupun hasil investigasi resmi.
“Jangan membuat masyarakat takut dengan imunisasi. Kalau ada kejadian ikutan pasca imunisasi langsung jadi berita besar, tapi klarifikasinya sering tidak muncul lagi,”ujar Aslinar dalam keterangan yang diterima tvrinews di Bapelkes Aceh, Kota Banda Aceh, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan, imunisasi merupakan upaya membentuk kekebalan tubuh agar anak tidak mudah terserang penyakit berbahaya atau setidaknya mengalami gejala yang lebih ringan.
Menurutnya, sejumlah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi masih ditemukan di Aceh, seperti polio, campak, rubella, difteri, pertusis, tetanus, hingga tuberkulosis.
Aslinar mengingatkan Aceh pernah menjadi sorotan nasional akibat munculnya kasus polio pada akhir 2022 di Kabupaten Pidie. Penyakit tersebut dinilai sangat berbahaya karena menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.
Ia juga menyoroti tingginya kasus campak di Aceh. Menurutnya, hampir setiap pekan rumah sakit masih menerima pasien campak dengan komplikasi berat seperti radang paru, dehidrasi berat, kejang, hingga radang otak.
“Campak penularannya sangat cepat. Satu orang bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang di sekitarnya,”jelasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahaya rubella bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan sindrom rubella kongenital pada bayi, seperti gangguan jantung, kebutaan, keterlambatan perkembangan, hingga gangguan pendengaran.
Dalam pemaparannya, Aslinar juga menjelaskan konsep herd immunity atau kekebalan kelompok. Menurutnya, perlindungan komunitas dapat tercapai apabila cakupan imunisasi melebihi 80 persen.
“Imunisasi bukan hanya melindungi anak yang divaksin, tapi juga bayi baru lahir dan anak-anak yang belum bisa menerima vaksin,”lanjutnya.
Ia menambahkan, pemerintah kini telah menyediakan berbagai jenis vaksin secara gratis di puskesmas, termasuk vaksin rotavirus, PCV, dan HPV yang sebelumnya hanya bisa diperoleh dengan biaya mahal di layanan kesehatan tertentu.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sulitnya mendapatkan izin keluarga menjadi alasan utama balita di Aceh tidak memperoleh imunisasi. Selain itu, kekhawatiran terhadap efek samping dan anggapan imunisasi tidak penting juga masih menjadi penyebab rendahnya cakupan vaksinasi.
Karena itu, Aslinar mengajak tenaga kesehatan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi publik untuk meluruskan berbagai mitos mengenai imunisasi, mulai dari isu autisme, kandungan berbahaya, hingga anggapan bahwa ASI dan herbal saja sudah cukup melindungi anak.
“ASI dan imunisasi harus berjalan bersama untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak,”ucapnya.
Ia menegaskan manfaat imunisasi jauh lebih besar dibandingkan risikonya. Menurutnya, efek samping yang umum terjadi biasanya hanya berupa demam ringan atau bengkak di area suntikan dan dapat ditangani dengan mudah.
“Jangan biarkan hoaks mengorbankan masa depan anak kita. Ayo lengkapi imunisasi anak,”tuturnya.










