TVRINews, Jakarta
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin pesat dan mulai mengubah peta pekerjaan global. Hingga 2030, sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan diperkirakan hilang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai perkembangan tersebut menjadi tantangan besar yang perlu diantisipasi melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan beradaptasi tenaga kerja.
Hal itu disampaikan AHY dalam acara Digital Infrastructure Summit 2026, yang digelar Biru Muda Project (BMP) di kawasan Thamrin, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.
"Tentu, ini menjadi tantangan besar bagi kita. Ketika teknologi yang diciptakan manusia mampu melampaui kecerdasan manusia itu sendiri, bagaimana kita harus menyikapinya?," terang AHY, saat memaparkan perkembangan AI semakin pesat dalam acara Digital Infrastructure Summit 2026, Senin, 12 Oktober 2026.
AHY menjelaskan, AI tidak hanya mendorong kemajuan teknologi, tetapi juga memengaruhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor. Perubahan ini menuntut pekerja untuk terus memperbarui keterampilan agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
"Diperkirakan satu dari empat pekerja di dunia terpapar atau terdampak oleh penggunaan AI. Sekitar 59 persen pekerja juga diperkirakan perlu meningkatkan atau memperbarui keterampilannya (upskilling dan reskilling) agar tidak tertinggal, baik karena pekerjaannya berubah maupun karena keterampilan yang dimiliki sudah tidak lagi relevan," lanjutnya.
Proyeksi tersebut sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) 2025, yang memperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030. Namun, pada periode yang sama, sekitar 92 juta pekerjaan diproyeksikan hilang akibat perubahan kebutuhan dan struktur dunia kerja.
Selain memengaruhi lapangan kerja, perkembangan AI juga menunjukkan kemajuan kemampuan teknologi dalam menyelesaikan persoalan kompleks. Sekitar 90 persen model AI terdepan yang diuji dilaporkan mampu menyamai, bahkan melampaui, kemampuan tingkat doktor dalam bidang sains.
Kondisi ini memperkuat urgensi bagi tenaga kerja untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Peningkatan keterampilan (upskilling) dan pembelajaran keterampilan baru (reskilling) menjadi langkah penting agar pekerja dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan yang terus berkembang.
AHY mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar bertahan pada pekerjaan lama, tetapi juga mulai mempersiapkan diri untuk memasuki bidang pekerjaan baru yang tumbuh seiring perkembangan teknologi.
Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk menghadapi transformasi dunia kerja. Tanpa kesiapan meningkatkan keterampilan, pekerja berisiko tertinggal ketika pekerjaan yang selama ini ditekuni tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar.










