TVRINews, Tangerang Selatan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat SMA menyalurkan Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA kepada 100 sekolah menengah atas (SMA) terpilih pada 2026. Program ini bertujuan memperkuat pembelajaran sains, meningkatkan keterampilan eksperimen, serta menumbuhkan budaya berpikir ilmiah di lingkungan sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan bantuan tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih berkualitas dan berorientasi pada pengalaman belajar siswa.

“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,”kata Fajar dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 23 Juni 2026.
Menurut Fajar, laboratorium memiliki peran penting dalam mengembangkan literasi sains peserta didik. Melalui kegiatan praktikum, siswa tidak hanya memahami teori yang dipelajari di kelas, tetapi juga mampu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan fenomena yang terjadi di sekitarnya.
“Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi,”tambahnya.
Ia menambahkan, aktivitas praktikum di laboratorium juga sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini dikembangkan Kemendikdasmen. Pendekatan tersebut mendorong siswa untuk memahami konsep melalui pengalaman langsung dan proses pengujian ilmiah.
“Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori,”ucapnya.
Karena itu, Fajar mengajak seluruh sekolah penerima bantuan untuk memanfaatkan laboratorium sebagai sarana menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan budaya ilmiah di kalangan peserta didik.
“Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, menjelaskan bahwa bantuan laboratorium IPA merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah. Selain penyediaan sarana praktikum, program ini juga disertai bimbingan teknis guna meningkatkan kemampuan sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan merawat fasilitas laboratorium secara efektif dan aman.
Yuli mengungkapkan bahwa minat sekolah terhadap program tersebut sangat tinggi. Dalam waktu sekitar satu minggu masa pendaftaran, sebanyak 1.834 SMA mengajukan proposal bantuan melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras).
Namun, karena kuota yang tersedia hanya 100 paket bantuan, seleksi dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk prioritas bagi sekolah yang telah direvitalisasi, sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah yang menjadi model pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.
“Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mendorong keterampilan eksperimen siswa,”ungkap Yuli.
Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap sarana laboratorium yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat pembelajaran sains sekaligus membentuk generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.










