TVRINews, Los Angeles
Ambisi Elon Musk Menuju Triliuner Pertama dan Kolonisasi Mars.
Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, tengah bersiap melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang diprediksi akan mencatatkan rekor sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar modal global. ini bukan sekadar upaya menggalang dana, melainkan strategi ambisius untuk mendanai visi Musk dalam menjadikan manusia sebagai spesies multi-planet.
Berdasarkan prospektus yang dirilis, SpaceX menargetkan perolehan dana sebesar $75 miliar (sekitar Rp1.350 triliun) melalui pelepasan 555.555.555 lembar saham dengan harga $135 (sekitar Rp2,43 juta) per lembar.
Angka ini melampaui rekor IPO sebelumnya yang dipegang oleh raksasa minyak Saudi Aramco sebesar $26 miliar (sekitar Rp468 triliun) pada tahun 2019.
Menuju Status Triliuner Pertama
Jika IPO ini berjalan mulus, valuasi pasar SpaceX diperkirakan mencapai $1,77 triliun (sekitar Rp31.860 triliun). Bagi Elon Musk, yang saat ini memegang kendali atas 82,4% hak suara di perusahaan melalui kepemilikan saham Kelas B, kesuksesan ini berpotensi mengukuhkan posisinya sebagai triliuner pertama di dunia.
Data Forbes per 11 Juni 2026 mencatat kekayaan bersih Musk mencapai $794,6 miliar (sekitar Rp14.302,8 triliun). Jumlah ini melampaui total kekayaan gabungan empat miliarder di bawahnya—Larry Page, Sergey Brin, Jeff Bezos, dan Larry Ellison yang secara akumulatif memiliki $1,04 triliun (sekitar Rp18.720 triliun).
Dalam catatan yang disertakan pada prospektus, Musk menegaskan tujuan jangka panjangnya: "Kami sedang membangun infrastruktur untuk menyelamatkan umat manusia dari kepunahan, dimulai dengan pangkalan di bulan dan akhirnya kolonisasi Mars." Musk menetapkan ambisi untuk menempatkan setidaknya 1 juta penduduk di Mars sebagai bagian dari target kompensasinya, sebuah angka yang setara dengan populasi kota-kota besar seperti Ottawa atau Praha.
Skala Operasional yang Masif
Investasi SpaceX saat ini berada pada skala yang mampu menandingi anggaran negara. Sepanjang tahun 2025, perusahaan menghabiskan $20,7 miliar (sekitar Rp372,6 triliun) untuk operasional, termasuk pengembangan roket dan teknologi AI.
Sebagai perbandingan, anggaran operasional NASA untuk tahun 2026 tercatat sebesar $24,4 miliar (sekitar Rp439,2 triliun).
Sebagian besar pendanaan tersebut terserap oleh unit konektivitas Starlink, yang direncanakan akan meluncurkan hingga 100.000 satelit generasi baru. Saat ini, SpaceX baru mengoperasikan sekitar 9.600 satelit di orbit.
Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti keterkaitan bisnis antara entitas milik Musk. SpaceX dilaporkan membelanjakan $131 juta (sekitar Rp2,358 triliun) pada tahun 2025 untuk pengadaan unit Cybertruck dari Tesla. Kedekatan hubungan operasional ini memicu spekulasi di kalangan analis mengenai kemungkinan penggabungan antara SpaceX dan Tesla di masa depan.
Dalam upaya memperluas akses kepemilikan saham, SpaceX berencana mengalokasikan sekitar 30% dari total saham IPO untuk investor ritel. Angka ini tergolong sangat tinggi dibandingkan standar industri yang biasanya hanya mengalokasikan 5% hingga 10% bagi investor individu.










