TVRINews, Mataram
BMKG mencatat Kecamatan Donggo mengalami 40 hari tanpa hujan, sementara wilayah lain di NTB berada dalam status waspada.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi menetapkan Kabupaten Bima sebagai satu-satunya daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kini berada di bawah status siaga kekeringan meteorologis, menyusul eskalasi fenomena iklim El Nino yang secara signifikan mempercepat penurunan curah hujan di wilayah tersebut.
Kondisi paling ekstrem dilaporkan terjadi di Kecamatan Donggo, di mana periode kering tanpa turun hujan telah berlangsung selama 40 hari berturut-turut. Angka tersebut tercatat sebagai durasi tanpa hujan terpanjang di seluruh provinsi saat ini.
“Di NTB hanya Kabupaten Bima yang masuk kategori siaga kekeringan meteorologis,” ujar Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, dalam pernyataan resminya yang di rilis Jumat 12 Juni 2026.
Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer terkini, seluruh zona di NTB dikonfirmasi telah memasuki musim kemarau secara penuh. Indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada di angka 1,04 atau masuk dalam kategori lemah. Kendati demikian, BMKG memproyeksikan parameter ini akan terus menguat hingga mencapai fase moderat mulai Juni 2026.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Cakra Mahasurya, membenarkan adanya korelasi langsung antara anomali suhu permukaan laut dengan percepatan musim kering tahun ini.
“Seluruh wilayah NTB saat ini telah memasuki musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino,” kata Cakra menjelaskan.
Selain wilayah yang berstatus siaga, BMKG juga merilis peringatan dini tingkat waspada untuk beberapa daerah penopang di Kabupaten Bima, meliputi Kecamatan Belo, Bolo, Langgudu, Palibelo, dan Parado.
Status waspada serupa turut meluas ke Kabupaten Dompu (Kecamatan Kempo dan Manggalewa) serta Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Empang, Lape, dan Plampang).
Di sisi lain, perhatian para ahli meteorologi juga tertuju pada fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada di fase negatif dengan indeks -0,926.
Kondisi IOD diprediksi akan bertransisi menuju fase positif pada Juli 2026. Perubahan fase ini diperkirakan berpotensi menekan pertumbuhan awan hujan secara lebih masif di sepanjang wilayah Indonesia bagian selatan.
Menanggapi risiko krisis ketersediaan air bersih yang terus meningkat, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi, termasuk penghematan konsumsi air secara ketat.
Otoritas juga menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan melarang aktivitas pembakaran sampah terbuka yang tidak diawasi.
Kendati tren kekeringan mulai mendominasi, pemodelan cuaca menunjukkan masih adanya peluang hujan dengan intensitas ringan pada periode 11 hingga 20 Juni 2026. Probabilitas curah hujan di atas 20 milimeter per dasarian berkisar antara 10 hingga 30 persen, yang diprediksi akan tersebar secara lokal di sebagian Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, serta sebagian wilayah Bima dan Dompu.










