TVRINews, Jakarta
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran di sejumlah daerah. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat bertahan di bawah tanah sehingga membutuhkan proses pemadaman dan pendinginan lebih lama.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara bertahap, mulai dari mobilisasi personel, penyiapan sumber air, pemadaman aktif, hingga pendinginan setelah api berhasil dipadamkan.
Menurut Berton, tahap pendinginan menjadi penting untuk mencegah munculnya kembali titik api, khususnya pada lahan gambut.
"Setelah api berhasil dipadamkan ini belum selesai pekerjaan pekerjaan nya masih ada yang disebut dengan kendaraan lain dengan pendinginan dipastikan tidak ada lagi panas dari lahan terbakar terjadi pekerjaan ini bukan seperti memadamkan vegetasi yang ada di tanah gambut luar biasa tantangannya,” ujar Berton dalam keterangannya melalui kanal YouTube BNPB, Jumat, 4 September 2026.
Berton menjelaskan, karakteristik lahan gambut membuat proses penanganan berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Sumber panas dapat berada di bawah permukaan sehingga api berpotensi kembali muncul meski kondisi di atas tanah terlihat sudah padam.
Karena itu, petugas tidak hanya melakukan pemadaman dari permukaan, tetapi juga melakukan pemantauan untuk menemukan titik panas yang berada di bawah tanah.
Di Kalimantan Selatan, BNPB bahkan menggunakan teknologi thermal untuk mendeteksi titik api yang tidak terlihat dari permukaan. Petugas juga melakukan injeksi surfaktan pada sejumlah titik api di dalam tanah untuk membantu air masuk dan meningkatkan kelembapan lahan.
Sementara di Kalimantan Barat, kondisi lahan gambut yang terbakar juga membuat proses pendinginan membutuhkan pasokan air lebih banyak.
Berton mengatakan, upaya penanganan karhutla dilakukan melalui operasi darat dan udara, termasuk water bombing serta pemantauan titik panas dari udara. Operasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api meluas.
Penanganan juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca di wilayah yang memiliki kondisi atmosfer mendukung. Namun, pelaksanaannya bergantung pada ketersediaan awan yang dapat diintervensi.
BNPB mengimbau masyarakat ikut mencegah munculnya titik api baru dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan.
Masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan terbuka juga diminta memastikan api unggun maupun api untuk memasak benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.










