TVRINews, Jakarta
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menyoroti masih maraknya peredaran produk genteng dan keramik impor di pasar dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian mengingat Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku utama, termasuk tanah liat, dalam jumlah yang melimpah.
“Sekarang ini ternyata di Indonesia, impor itu masih dipakai. Barang-barang impor, terutama genteng, ini masih diimpor. Mestinya karena sumbernya itu adalah keramik, yaitu yang terbuat dari tanah liat, ini enggak mesti harus beli dari luar negeri,” kata Saleh dikutip dari Parlementaria, Sabtu, 19 September 2026.
Saleh menilai Indonesia memiliki modal bahan baku yang memadai untuk memperkuat industri genteng dan keramik nasional. Karena itu, ketergantungan terhadap produk impor perlu dikurangi dengan mendorong optimalisasi kapasitas industri dalam negeri.
“Jadi impor tuh mestinya tidak ada. Kita kan tersedia, bahan-bahannya juga ada di kita. Saya kira itu menjadi perhatian yang harus kita fokuskan terus sampai ke depan,” ujarnya.
Menurut Politisi Fraksi PAN itu penguatan industri genteng dan keramik nasional tidak hanya berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, diperlukan dukungan kebijakan yang mampu menciptakan iklim usaha dan daya saing industri yang lebih baik.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu menjadi perhatian pemerintah, yakni menjamin ketersediaan bahan baku, memastikan regulasi tidak membebani pelaku usaha, serta memperluas akses pasar bagi produk industri dalam negeri.
“Kalau bisa ya tentu ekspor. Kalau orientasinya ekspor kan berarti dampaknya untuk perolehan ekonomi juga makin besar,” tuturnya.
Meski demikian, Saleh mengatakan penguatan pasar domestik perlu menjadi perhatian terlebih dahulu sebelum industri genteng dan keramik nasional melakukan ekspansi lebih luas ke pasar ekspor. Menurutnya, optimalisasi pasar dalam negeri dapat menjadi pijakan bagi industri untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus daya saing.
Di sisi lain, Saleh menilai pengembangan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan juga perlu dikaji sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberlanjutan dan daya saing industri. Namun, inovasi tersebut harus tetap memperhatikan kualitas dan keamanan produk.
“Karena ini kan tentu harus aman juga, produksinya itu aman, barangnya dan kualitasnya tidak kalah dengan impor,” ucapnya.
Saleh menegaskan, Komisi VII DPR RI akan menjadikan berbagai temuan dalam kunjungan kerja spesifik tersebut sebagai bahan dalam menjalankan fungsi pengawasan dan advokasi kebijakan. Langkah itu diharapkan dapat mendorong industri genteng dan keramik nasional semakin berdaya saing serta memperkuat kemampuan produk dalam negeri memenuhi kebutuhan pasar nasional.










