TVRINews, Jawa Timur
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar mendorong perguruan tinggi untuk meninggalkan pola business as usual dengan memperkuat inovasi, kreativitas, dan kolaborasi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman. Hal itu disampaikan Muhaimin saat menghadiri Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy di Situbondo, Jawa Timur, Selasa, 22 September 2026.
Muhaimin mengatakan, kemajuan tidak hanya dapat tumbuh di kota-kota besar. Daerah juga memiliki peluang menjadi pusat kekuatan pembangunan apabila mampu membangun ekosistem pendidikan dan tradisi keilmuan yang kuat.
"Kemajuan bukan hanya di Jakarta, bukan hanya di Surabaya, Bandung, atau Medan. Kemajuan bisa tumbuh dan menjadi kekuatan utama di manapun, termasuk di Situbondo, kalau kita istiqomah dan konsisten pada fondasi ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Muhaimin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Rabu, 23 September 2026.
Ia menekankan, para sarjana tidak boleh berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat menuntut lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan kemampuan, serta mampu mengubah ilmu yang diperoleh menjadi karya dan kontribusi nyata.
"Saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan yang harus kita antisipasi bersama, terutama kepada seluruh sarjana baru untuk tidak pernah berhenti di titik ini, untuk terus belajar, untuk terus memperbaiki, untuk terus menyempurnakan seluruh perolehan ilmu pengetahuan, prestasi yang diraih dan berbagai pengalaman, pengajaran dan pendidikan di universitas kita tercinta ini," tegasnya.
Kemudian, Muhaimin juga menyoroti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga menyelesaikan berbagai persoalan.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, kemajuan teknologi tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kita harus betul-betul mampu mengadaptasikan diri dan memposisikan diri di tengah berbagai kecerdasan buatan yang mengikuti nilai-nilai kemanusiaan kita," katanya.
Selain perkembangan teknologi, Muhaimin menyebut generasi muda juga menghadapi tantangan berupa perubahan geopolitik, dinamika ekonomi global, dan krisis iklim. Kondisi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu membaca perubahan dan mengambil peran dalam mencari solusi.
Dalam konteks tersebut, ia menilai perguruan tinggi harus menjadi fondasi penting dalam pembangunan. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu melahirkan gagasan, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Muhaimin juga mengingatkan pentingnya konsistensi terhadap kaidah ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan pembangunan. Menurutnya, keberadaan profesor, guru besar, maupun ahli tidak otomatis menjamin keberhasilan suatu program apabila implementasinya tidak berjalan sesuai dengan dasar keilmuan.
"Banyak program pembangunan gagal bukan karena tidak ada profesor, guru besar, atau ahli. Kegagalan diawali dari ketidakkonsistenan atau tidak istiqomah terhadap kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang menjadi pijakan implementasi program," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Muhaimin menyambut baik peluang kerja sama dengan Universitas Ibrahimy. Ia menyatakan kesiapan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat untuk mendorong Universitas Ibrahimy menjadi bagian dari kekuatan pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari 500 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi Wisuda ke-35 Universitas Ibrahimy. Muhaimin berharap para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga terus belajar, berkarya, dan mengambil peran dalam menghadirkan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.










