TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, Sabtu, 17 Oktober 2026. Pertemuan membahas penguatan sinergi kedua lembaga dalam menghadapi berbagai ancaman bencana di Indonesia, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga fenomena lainnya.
Kristomei berharap BMKG dapat terus memberikan dukungan penuh, khususnya melalui suplai data dan analisis cuaca yang tajam untuk memandu operasi tim di lapangan.
“Terima kasih atas dukungan BMKG terhadap BNPB dalam penanggulangan bencana selama ini,” ujar Kristomei di sela-sela pertemuan tersebut, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 18 Oktober 2026.
Ia juga mengapresiasi kerja sama solid yang sudah terbangun antara BNPB dan BMKG, seperti dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) dan analisis dini peringatan cuaca. Menurutnya, akurasi data dari BMKG bak "kompas" yang sangat membantu otoritas kebencanaan untuk bertindak cepat, baik dalam fase siaga maupun tanggap darurat.
Sinergi kedua lembaga tersebut juga diperkuat melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya turut menyoroti situasi terkini terkait penanganan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah provinsi. Menariknya, di tengah anomali cuaca dan karhutla ini, beberapa daerah justru sudah mulai diintai ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor. Hal ini tentu menuntut kesiapsiagaan ganda dari seluruh elemen pemerintah.
Kristomei menegaskan bahwa urusan bencana bukanlah tugas satu lembaga saja.
"Penanggulangan bencana di Indonesia membutuhkan kolaborasi dan sinergi lintas kementerian dan lembaga. BNPB tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama sangat penting untuk mengoptimalkan upaya kita bersama dalam melindungi masyarakat," tegasnya.










