TVRINews, Bandung
Sejumlah tokoh muda nasional, akademisi, praktisi, dan aktivis menggelar diskusi serta bedah buku tentang kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Kanz Cafe, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan yang diinisiasi Sinergi Generasi Muda (SIGMA) bersama Bandung Renaissance Forum (BRIF) tersebut menjadi ruang diskusi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai kepemimpinan sekaligus memperkuat budaya literasi di Kabupaten Bandung, yang merupakan tanah kelahiran AHY.
Diskusi menghadirkan Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Herzaky Mahendra Putra, Founder Bandung Renaissance Forum Afdhal, Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan Vera Hermawan, serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M. Hailuki.
Penyunting buku sekaligus Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Herzaky Mahendra Putra, mengatakan penerbitan buku tersebut berangkat dari kegelisahan kalangan muda terhadap pemaknaan kepemimpinan yang dinilai kerap hanya berorientasi pada popularitas dan viralitas di media sosial.
Bersama 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda, pihaknya ingin menghadirkan diskursus kepemimpinan yang terbuka dengan mengedepankan analisis kritis berdasarkan data dan fakta.

(Foto: Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Herzaky Mahendra Putra)
"Berangkat dari kegelisahan tersebut, penyunting bersama 27 akademisi, praktisi, dan aktivis muda Indonesia memiliki gagasan bersama untuk menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah diskursus terbuka. Kami ingin membangun ruang diskusi dari beragam sudut pandang yang ditelaah secara kritis berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar manis narasi dan amplifikasi terkoordinasi oleh para buzzer belaka yang sering kita lihat pada sosok pemimpin karbitan," ujar Herzaky dalam keterangan yang diterima tvrinews, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, buku tersebut menawarkan perspektif mengenai standar kepemimpinan nasional di tengah berbagai tantangan zaman. Perjalanan AHY diangkat sebagai studi kasus mengenai transformasi diri, visi kepemimpinan, keteguhan nilai, dan komitmen terhadap kerja nyata.
Herzaky juga mengungkapkan bahwa AHY tidak mengetahui proses penyusunan buku tersebut sejak awal. Karena itu, kehadiran buku yang dipersiapkan sebagai kejutan ulang tahun tersebut disambut AHY dengan rasa terkejut dan apresiasi.
Dalam diskusi tersebut, Founder Bandung Renaissance Forum Afdhal mengingatkan bahwa regenerasi kepemimpinan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan faktor usia. Menurutnya, kapasitas, pendidikan, integritas, dan nilai-nilai yang dipegang seorang pemimpin juga harus menjadi pertimbangan.
"Buat saya, sebetulnya bukan soal muda atau tua. Karena yang muda juga banyak yang mengalami kecelakaan, dan yang tua juga banyak yang mengalami kecelakaan. Tentu tidak asal muda yang kita dambakan; banyak kaum muda yang tidak capable, tidak terdidik, atau dipertanyakan integritasnya. Melalui buku ini, kita melihat bagaimana sosok anak muda yang memegang nilai kebaikan, berorientasi pada proses, dan mau berjuang tanpa merusak aturan dapat dijadikan bahan muhasabah diri,"ungkap Afdhal.

Sementara itu, Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan Vera Hermawan membahas kepemimpinan AHY melalui perspektif komunikasi krisis. Ia menyoroti cara AHY menghadapi tekanan organisasi dengan mengutamakan konsolidasi internal, komunikasi berjenjang, dan sikap tidak reaktif.
"Situasi krisis itu membutuhkan pengalaman dan daftar inventarisasi masalah, bukan sekadar respons spontan. Langkah konsolidasi, ketenangan dalam menghadapi upaya perampasan kepemimpinan AHY oleh kekuasaan, serta sikap tidak reaktif yang ditunjukkan AHY membuktikan bahwa soliditas internal adalah fondasi utama organisasi, di mana perpaduan pengalaman militer dan sipil membentuk kapasitas kepemimpinan yang matang,"kata Vera.
Dari sisi pengembangan generasi muda daerah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M. Hailuki menilai budaya membaca perlu diperkuat untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan berpikir kritis generasi milenial maupun generasi Z.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin budaya literasi di Kabupaten Bandung semakin kuat dan meningkat. Generasi muda, milenial, dan zilenial perlu membangun tradisi baru tentang pentingnya membaca atau iqra, meningkatkan wawasan serta kemampuan berpikir kritis untuk melahirkan gagasan konstruktif bagi pembangunan daerah," ujar Hailuki.
Ia mengatakan Kabupaten Bandung dipilih sebagai lokasi pertama rangkaian diskusi karena memiliki keterkaitan historis dengan AHY sebagai tempat kelahirannya. Melalui kegiatan tersebut, sosok AHY diharapkan dapat menjadi salah satu referensi kepemimpinan bagi generasi muda di daerah.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi turut mengapresiasi penyusunan buku yang melibatkan 27 penulis muda dari berbagai latar belakang. Menurutnya, penulisan oleh pihak lain memberikan ruang bagi munculnya perspektif yang beragam dalam mengulas sosok AHY.
"Saya belum baca bukunya secara penuh, tetapi dari cara penyajian yang disampaikan, ada 27 penulis anak-anak muda yang memberikan persepsinya. Banyak tokoh membuat buku karena dia sendiri yang ingin, tetapi kalau ini orang lain yang menulis, kita bisa melihat orisinalitas sudut pandang para penulis tersebut. Berdasarkan pengamatan saya secara pribadi, AHY adalah pemimpin yang sangat terbuka untuk sebuah masukan dan kritik. Beliau mencatat setiap masukan yang saya sampaikan dan langsung mendelegasikan agar ditindaklanjuti oleh timnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencatat dan melakukan tindak lanjut secara nyata,"ungkap Dede Yusuf.
Sebagai informasi, buku Kepemimpinan AHY pertama kali diluncurkan pada 23 September 2026 di Menteng, Jakarta. Buku tersebut disunting oleh Herzaky Mahendra Putra dan Mohammad Jibriel Avessina, serta melibatkan 27 penulis muda dari kalangan akademisi, praktisi, dan aktivis dengan beragam latar belakang profesi dan keilmuan.
Peluncuran buku yang dipersiapkan sebagai kejutan ulang tahun bagi AHY itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, pejabat negara, pimpinan lembaga, akademisi, pengamat, dan perwakilan generasi muda. Di antaranya Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rocky Gerung.
Buku tersebut merekam perjalanan dan transformasi kepemimpinan AHY sekaligus menghadirkan beragam perspektif dari generasi muda mengenai nilai, tantangan, dan praktik kepemimpinan di Indonesia.









