TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong pemanfaatan lukisan cadas prasejarah di kawasan Cagar Budaya Liangkobhori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah. Salah satunya melalui pengembangan motif lukisan gua menjadi produk fesyen dan kriya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penjajakan kolaborasi strategis Kementerian Ekraf bersama Pemerintah Kabupaten Muna untuk mengoptimalkan potensi budaya lokal sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Riefky mengatakan, ekonomi kreatif merupakan salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang pengembangannya perlu dimulai dari daerah. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diperlukan untuk mengoptimalkan potensi setiap subsektor ekonomi kreatif.
"Ekonomi kreatif adalah mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah, sehingga Kementerian Ekraf dan Pemerintah Daerah harus berkolaborasi serta mengoordinasikan potensi tiap subsektor agar berdampak nyata. Kabupaten Muna berpeluang masuk ke dalam tiga program utama kami yaitu Desa Kreatif, Creative Hub, dan Creative by Indonesia untuk mendongkrak potensi lokal jadi juara nasional hingga global," ujar Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Riefky menambahkan, Kementerian Ekraf akan mengkaji potensi Kabupaten Muna melalui direktorat terkait agar kekayaan budaya seperti lukisan cadas Liangkobhori dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
"Kami akan mengkaji potensi Muna di direktorat terkait agar aset seperti lukisan gua tidak berhenti di dalam gua saja, tapi bertransformasi menjadi salah satunya produk fesyen yang menggerakkan ekonomi warga," katanya.
Dalam audiensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Muna mengusulkan empat prioritas pengembangan kawasan Liangkobhori. Pertama, perlindungan dan pemanfaatan motif visual lukisan cadas sebagai kekayaan intelektual komunal untuk subsektor fesyen dan kriya melalui digitalisasi.
Kedua, pendampingan dan fasilitasi Desa Liangkobhori agar dapat masuk dalam jejaring Desa Kreatif Kementerian Ekraf. Ketiga, penguatan sarana edukasi digital berbasis Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) untuk meminimalkan risiko kerusakan dinding gua akibat aktivitas wisatawan.
Keempat, dukungan pendampingan dan promosi Festival Liangkobhori agar dapat masuk dalam agenda kegiatan nasional. Festival tahunan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11–14 Juli dan pada 2026 memasuki penyelenggaraan tahun keempat.
Lebih lanjut, Riefky juga meminta pemerintah daerah melakukan pendataan dan pemetaan potensi ekonomi kreatif di setiap desa. Menurutnya, profil potensi desa yang jelas akan memudahkan pemerintah pusat dalam memberikan pendampingan dan mengaktifkan berbagai program pengembangan ekonomi kreatif.
"Silakan data dan petakan seluruh potensi ekraf yang ada. Ketika profil desanya sudah jelas, mulai dari pengrajin tenun hingga potensi lainnya, serta status Desa Kreatifnya resmi ditetapkan, pemerintah pusat dapat lebih mudah memberikan intervensi, merancang aktivasi program, dan mengakselerasi karya lokal ke tingkat yang lebih tinggi," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Muna H. Bachrun menyambut baik penjajakan kerja sama tersebut. Ia menyatakan pemerintah daerah akan segera berkoordinasi dan memetakan potensi ekonomi kreatif di setiap desa sebagai langkah konkret menindaklanjuti peluang kolaborasi dengan Kementerian Ekraf.
Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan potensi budaya dan kekayaan intelektual lokal diharapkan dapat membuka peluang usaha, meningkatkan nilai tambah produk daerah, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.









