TVRINews, Aceh
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, melalui Program Flagship Aktivasi Desa Kreatif bertajuk Masak Bersama Master (MASAMO).
Program yang digelar di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Syariah, Aceh Jaya, tersebut diikuti 45 pegiat usaha kuliner, katering, dan produsen jajanan dari Desa Alue Jang dan sekitarnya. Kegiatan ini bertujuan mendorong inovasi produk dengan mengoptimalkan potensi pangan lokal dan hasil perikanan daerah agar memiliki nilai tambah serta daya saing di pasar yang lebih luas.
Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Romi Astuti mengatakan, potensi ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru (the new engine of growth) dapat dikembangkan melalui kreativitas masyarakat di daerah.
"Ekonomi kreatif memiliki potensi besar sebagai the new engine of growth. Kekuatan itu sesungguhnya tumbuh dari daerah. Melalui kegiatan MASAMO, kita ingin menunjukkan bahwa dari bahan pangan lokal yang sederhana, sentuhan kreativitas dapat melahirkan produk baru yang tidak hanya menarik, tetapi juga bernilai jual," kata Romi dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didampingi ahli kuliner profesional Chef Abdullah dari Islamic Chef & Culinary Indonesia (ICCI). Mereka dilatih mengolah komoditas perikanan lokal berupa ikan lele menjadi sejumlah menu kekinian, di antaranya Lele Gulung Crispy with Black Curry dan Spaghetti with Acehnese Catfish Seasoning.
Tidak hanya menghasilkan sajian untuk konsumsi langsung, pelatihan juga diarahkan pada pengembangan produk olahan siap saji (Ready-To-Eat/RTE) yang memiliki potensi komersial. Peserta dibekali teknik rekayasa masa simpan (shelf-life extension) melalui sterilisasi alami agar produk dapat dipasarkan ke jaringan ritel modern tanpa bergantung pada rantai pendingin (cold chain).

Selain inovasi pengolahan pangan, program MASAMO turut memberikan pembekalan mengenai pengembangan menu, penyajian, pengendalian mutu, standardisasi kemasan, hingga pengelolaan bisnis. Pelaku usaha juga mendapatkan pengetahuan terkait pengelolaan keuangan, pemasaran digital, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (KI).
Pembekalan tersebut ditujukan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi UMKM kuliner di tingkat desa, seperti keterbatasan ide inovasi produk, pemahaman mengenai standar kemasan agar produk memiliki masa simpan lebih panjang, serta tata kelola keuangan usaha.
Penguatan subsektor kuliner dinilai strategis mengingat kontribusinya yang besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor kuliner mencatat nilai produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp721,82 triliun pada 2025, atau berkontribusi 41,06 persen terhadap PDB ekonomi kreatif nasional.
Melalui pengembangan produk berbasis bahan baku dan cita rasa lokal, pelaku usaha kuliner di Aceh Jaya diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui platform digital maupun pameran nasional.
Bupati Aceh Jaya, Safwandi menyampaikan dukungannya terhadap Program Aktivasi Desa Kreatif agar dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
"Melalui program yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor (heksaheliks) ini, semangat masyarakat Desa Alue Jang tidak berhenti pada demonstrasi memasak hari ini, melainkan menjadi langkah awal terciptanya ekosistem kuliner yang tangguh, berdaya saing, dan berkontribusi langsung pada pengentasan kemiskinan menuju Indonesia Emas 2045," tegas Safwandi.
Program Aktivasi Desa Kreatif merupakan salah satu program unggulan Kementerian Ekraf untuk mengangkat potensi desa, memperkuat identitas daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui kegiatan kreatif.









