TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan aktivitas gempa susulan masih terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Senin, 24 Agustus 2026.
Berdasarkan laporan yang diterima BNPB hingga pukul 05.00 WIB, tercatat sebanyak 6.409 kali gempa terjadi sejak gempa utama mengguncang wilayah Flores.
Dari ribuan kejadian tersebut, gempa susulan dengan kekuatan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1. Sementara gempa dengan kekuatan magnitudo 5 atau lebih tercatat sebanyak 33 kali.
“Sampai pagi ini tercatat 6.409 kali gempa. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil 1,1. Untuk gempa dengan magnitudo 5 atau lebih, tercatat sebanyak 33 kali,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers BNPB, Senin, 24 Agustus 2026.
Suharyanto menjelaskan tidak seluruh gempa susulan dirasakan oleh masyarakat. Dari total 6.409 kejadian, sebanyak 139 gempa dilaporkan terasa hingga ke permukiman warga.
“Dari total 6.409 kejadian tersebut, ada 139 gempa yang dirasakan masyarakat. Sementara gempa berkekuatan 5 magnitudo ke atas yang terjadi sebanyak 33 kali juga dirasakan warga,” jelasnya.
Aktivitas gempa susulan tersebut membuat sebagian masyarakat masih diliputi kekhawatiran. Kondisi itu menyebabkan warga memilih tetap berada di luar rumah atau bertahan di lokasi pengungsian, meski sebagian rumah mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan.
“Sampai hari kedelapan setelah gempa Flores, masih banyak masyarakat yang merasa khawatir sehingga memilih mengungsi di luar rumah. Bahkan ada yang rumahnya tidak terdampak maupun hanya mengalami kerusakan ringan,” kata Suharyanto.
Meski gempa susulan masih terjadi, BNPB menyebut aktivitasnya menunjukkan kecenderungan menurun dalam dua hari terakhir.
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam periode 24 jam terakhir hanya tercatat satu gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
“Dalam dua hari terakhir, berdasarkan penjelasan BMKG, aktivitas gempa mulai menunjukkan penurunan. Dalam 24 jam terakhir tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat,” ungkap Suharyanto.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, namun tidak perlu panik. Berdasarkan analisis BMKG, aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung hingga beberapa pekan ke depan sebelum kondisi berangsur lebih stabil.
“Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung sekitar tiga sampai empat minggu ke depan. Namun, berdasarkan penjelasan BMKG, aktivitasnya diharapkan semakin stabil,” pungkas Suharyanto.
BNPB bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas gempa sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat terdampak tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.










