TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 136 orang meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda Kabupaten Nagekeo dan sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026.
Data BNPB per 10 September 2026 mencatat 48 orang meninggal secara langsung dan 88 orang meninggal secara tidak langsung. Selain itu, sebanyak 1.776 orang mengalami luka-luka dan 56.577 orang masih mengungsi.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban dalam bencana tersebut.
“Kami tetap menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya terkait meninggalnya sejumlah warga Indonesia akibat adanya secara langsung maupun tidak langsung dampak gempa bumi,” ujar Berton dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Selain penanganan korban, pemerintah terus memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak melalui distribusi bantuan logistik. BNPB mencatat total 2.178 ton bantuan logistik telah dikirim dari Bandara Halim menuju Pulau Flores selama periode 15 Agustus hingga 9 September 2026.
Bantuan tersebut didistribusikan melalui sejumlah wilayah, di antaranya Labuan Bajo sebanyak 1.379 ton dan Maumere sebanyak 664 ton.
Penanganan darurat juga mencakup pencarian dan evakuasi, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan pengungsian, serta pemulihan jalan, listrik, komunikasi, dan infrastruktur dasar.
BNPB juga masih melakukan pendataan, verifikasi, dan validasi kerusakan rumah di tujuh kabupaten terdampak. Data sementara mencatat 102.384 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Untuk rumah rusak ringan dan sedang, pemerintah menyiapkan penanganan melalui perbaikan di tempat, bantuan stimulan, dan sembako. Sementara rumah rusak berat akan mendapatkan opsi hunian sementara maupun hunian tetap sesuai usulan pemerintah daerah.
BNPB juga mendorong pembentukan pengungsian terpadu bagi warga yang rumahnya rusak berat dan belum dapat ditempati. Di sejumlah wilayah yang sulit dijangkau, Satgas turut menggunakan kendaraan motor trail untuk mendukung penanganan di lapangan.










