TVRINews, Depok
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin melepas sebanyak 210 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diberangkatkan ke Korea Selatan (Korsel) melalui skema Government to Government (G to G), di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Sawangan, Depok, Senin, 27 April 2026.
Mukhtarudin memberikan pembekalan motivasi kepada para pekerja, sekaligus membuka Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP) bagi 43 calon PMI sebagai tahap awal kesiapan bekerja di luar negeri.
Dari total 210 PMI yang diberangkatkan, sebanyak 150 orang akan bekerja di sektor manufaktur dan 60 lainnya di sektor perikanan. Mereka merupakan peserta yang telah lulus seleksi pada periode 2023 hingga 2025 dan menjalani proses persiapan yang panjang.
Lebih lanjut, Mukhtarudin menegaskan, pemerintah berkomitmen penuh dalam memberikan pelindungan menyeluruh bagi PMI, mulai dari sebelum keberangkatan, selama bekerja, hingga kembali ke tanah air. Hal ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat tata kelola pekerja migran.
"Negara selalu hadir untuk memberikan pelayanan pelindungan bagi kalian. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata kerja keras dan ketekunan saudara-saudara sekalian," ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 28 April 2026.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga komitmen dan profesionalisme selama bekerja di luar negeri. Berdasarkan data, tercatat sebanyak 3.663 PMI program G to G Korea mengundurkan diri dari pemberi kerja sejak 2021 hingga awal Maret 2026.
"Jangan mengundurkan diri atau kabur dari tanggung jawab. Jalur resmi adalah satu-satunya jaminan pelindungan dari negara," tegasnya.
Sementara itu, penempatan PMI ke Korea Selatan menunjukkan tren positif dengan capaian 6.860 orang pada 2025. Bahkan, jumlah daftar tunggu (roster) saat ini mencapai sekitar 8.000 orang, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap program tersebut.
Dari sisi pendidikan, mayoritas peserta didominasi lulusan SMA/SMK sebanyak 173 orang, diikuti 33 lulusan SMP, serta masing-masing dua orang lulusan D3 dan S1.
Mukhtarudin menekankan, OPP menjadi tahapan krusial dalam membekali pekerja dengan keterampilan, kesiapan mental, serta pemahaman kondisi kerja di negara tujuan. Hingga April 2026, tercatat lebih dari seribu PMI telah mengikuti tahap ini.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas PMI melalui kerja sama pendidikan, salah satunya dengan Universitas Terbuka yang memberikan akses bagi pekerja untuk meraih gelar sarjana di sela waktu bekerja. Program Kejar Paket C juga disediakan bagi mereka yang ingin menyelesaikan pendidikan menengah.
Menurutnya, langkah ini diharapkan mampu menciptakan brain gain effect, di mana para PMI dapat kembali ke Indonesia dengan membawa keterampilan baru yang bermanfaat.
Kemudian, Mukhtarudin menyampaikan sejumlah pesan penting, di antaranya mematuhi hukum di negara penempatan, menjaga kinerja, beradaptasi dengan budaya kerja disiplin, serta mengelola keuangan dengan bijak. Ia juga mengingatkan agar PMI menghindari praktik judi online dan waspada terhadap penipuan digital.
"Keberangkatan ini bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan sesungguhnya. Terus belajar, bangun jejaring internasional, dan tingkatkan kapasitas diri demi kesejahteraan keluarga serta kontribusi bagi negara," ucapnya.










