TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengaktivasi Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) sebagai wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat mutu pendidikan di Indonesia. Melalui gerakan ini, pemerintah mengintegrasikan berbagai bentuk bantuan dan kerja sama yang selama ini berjalan terpisah agar lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.
PSPB mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, hingga individu dalam satu ekosistem kolaborasi guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan partisipasi masyarakat merupakan wujud kepedulian bersama dalam membangun pendidikan. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi, tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga melalui gagasan, tenaga, maupun keahlian.
"It is not about how much we give others, tidak soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi how meaningful, seberapa besar makna yang bisa kita berikan dari pemberian kita kepada orang lain. Karena itu kami membuka pintu lewat Rumah Pendidikan kepada siapa pun untuk berpartisipasi," ujar Menteri Mu'ti dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo telah memberikan izin kepada Kemendikdasmen untuk membangun kemitraan dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita melalui partisipasi masyarakat yang dijalankan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
"Partisipasi semesta adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan, percepatan pelaksanaan program, peningkatan, dan perluasan," jelasnya.
Menurut Mu'ti, kolaborasi lintas sektor dibutuhkan karena masih banyak kebutuhan pendidikan yang memerlukan dukungan bersama, mulai dari pengembangan bakat dan minat peserta didik, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
"Kami terus membuka diri untuk bermitra dengan berbagai pihak karena dengan cara kemitraan itulah kami bisa melakukan pemenuhan kebutuhan, percepatan, peningkatan, dan perluasan,"tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pola pikir generasi muda.
"Yang kita bangun adalah mindset. Yang kita bangun adalah manusia. Karena itu diperlukan sentuhan dari berbagai macam pihak,"ucapnya.
Menutup sambutannya, Mu'ti mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat budaya gotong royong dalam memajukan pendidikan.
"DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Mari kita wujudkan bersama-sama pendidikan bermutu untuk semua secara merata, membangun generasi Indonesia yang hebat dan berkualitas," pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa PSPB dibentuk untuk mengintegrasikan berbagai bentuk dukungan terhadap pendidikan yang selama ini masih tersebar dan belum terhubung dengan kebutuhan prioritas nasional.
"Kontribusi terhadap pendidikan sebenarnya sudah sangat banyak, tetapi berjalan secara tersebar, masing-masing dengan jalurnya sendiri. Akibatnya, dukungan belum selalu bertemu dengan kebutuhan prioritas nasional,"ungkap Suharti.
Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki lebih dari 447 ribu satuan pendidikan yang melayani lebih dari 53 juta peserta didik. Namun, sekitar 2,92 juta anak masih belum bersekolah, sementara capaian literasi dan numerasi juga masih menjadi tantangan.
Karena itu, menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Ruang kolaborasi tersebut kini tersedia melalui Superaplikasi Rumah Pendidikan pada fitur Ruang Mitra.
"Pendidikan di Indonesia sejak dahulu adalah kerja gotong royong. Kebutuhan pendidikan sangat besar dan tidak bisa dikerjakan oleh Kemendikdasmen sendiri,"tambahnya.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, turut menyambut baik peluncuran Gerakan PSPB. Menurutnya, gerakan tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem partisipasi masyarakat yang berkelanjutan.
"Yang akan diciptakan bukan sekadar program, tetapi ekosistem partisipasinya. Solusi bersama dan ruang-ruang partisipasi yang dibukakan bukan hanya kepada guru, kepala sekolah, satuan pendidikan, dan pemerintah daerah, tetapi juga kepada mitra-mitra pembangunan. Pendekatan inilah yang kami yakini akan memperkuat kualitas kebijakan kita,"kata Hetifah.
Peluncuran PSPB dihadiri 58 mitra pembangunan pendidikan yang berasal dari dunia usaha dan industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, serta berbagai lembaga lainnya sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pendidikan bermutu bagi seluruh anak Indonesia.
Ke depan, Kemendikdasmen akan mengembangkan sistem kemitraan berbasis data yang mempertemukan kebutuhan satuan pendidikan dengan calon kontributor, mulai dari identifikasi kebutuhan, pencocokan dukungan, koordinasi pelaksanaan, pemantauan, hingga pelaporan. Kolaborasi tersebut akan difokuskan pada digitalisasi pembelajaran, rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan, penyediaan beasiswa, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, serta penanganan anak tidak bersekolah.










