TVRINews, Jakarta
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak generasi muda memahami pentingnya transportasi rendah emisi dan pembangunan berkelanjutan melalui program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi Ketiga.
Para peserta diajak melakukan pembelajaran langsung dengan mengunjungi Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, serta area konstruksi bawah tanah proyek MRT Fase Kedua di kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat.
Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari edukasi lingkungan berbasis pengalaman langsung (experiential learning). Para pelajar diperkenalkan pada peran transportasi massal modern dalam mengurangi emisi karbon, menekan penggunaan kendaraan pribadi, sekaligus menjadi solusi terhadap persoalan kemacetan dan krisis ekologi di perkotaan.
Di Depo MRT Lebak Bulus, peserta mempelajari berbagai aspek operasional MRT Jakarta, mulai dari fasilitas penyimpanan dan perawatan kereta hingga sistem pengoperasiannya.
MRT Jakarta menggunakan pasokan listrik melalui Listrik Aliran Atas serta sistem Communication Based Train Control(CBTC). Teknologi tersebut mendukung efisiensi energi dan membuat MRT tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung di sepanjang jalur operasionalnya.
Dengan tingkat ketepatan waktu lebih dari 99 persen, MRT Jakarta dinilai menjadi salah satu contoh transportasi publik yang dapat mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum yang lebih ramah lingkungan.
“MRT adalah kerja sama government to government antara Jepang dan Indonesia. Kita ingin mencontoh standar dan kualitas Jepang yang baik dalam pengelolaan transportasi kereta api di dunia, termasuk kedisiplinannya,”ujar Head of Corporate Communication and Branding Department, PT MRT Jakarta (Perseroda), Angga Satria Perdana, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, mengatakan program KELANA dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda mengenai penerapan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“KELANA adalah Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda yang tujuannya ingin memberikan pengalaman langsung kepada anak muda mengenai proyek-proyek berkelanjutan di Indonesia, salah satunya adalah MRT. Di sini kita belajar bahwa Jakarta memiliki transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta menjadi representasi pengembangan transportasi umum di Indonesia,”ungkap Romi.
Kenalkan Konsep Kota Berorientasi Transit
Selain teknologi dan operasional MRT, peserta juga diperkenalkan dengan konsep Pengembangan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang diterapkan dalam pengembangan kawasan berbasis transportasi massal.
Konsep tersebut mengintegrasikan transportasi umum dengan fasilitas pendukung, termasuk akses bagi pejalan kaki. Pengembangan kawasan berbasis transit diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta membangun infrastruktur perkotaan yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana.
Para peserta kemudian mengunjungi area konstruksi bawah tanah MRT Fase Kedua di Silang Monas. Di lokasi tersebut, mereka melihat secara langsung penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proyek infrastruktur berskala besar.
Putri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titisari Kosasieputri, yang turut mengikuti KELANA Edisi Ketiga, menilai keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan menjadi hal penting di tengah ancaman perubahan iklim.
“Menurut saya program seperti Kelana ini sangat penting karena generasi muda itu harus diajak untuk peduli akan lingkungan dan sustainability karena climate crisis dan global warming, so now is the time to act,”kata Victoria.
Dorong Anak Muda Jadi Kreator Edukasi Lingkungan
Dalam tema “KELANA Java Overtrip”, edukasi mengenai transportasi berkelanjutan juga dikaitkan dengan persoalan lingkungan perkotaan lainnya, termasuk pengelolaan sampah dan limbah.
Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari kunjungan lapangan, tetapi juga didorong mengolah pengalaman tersebut menjadi konten digital yang dapat memberikan edukasi kepada masyarakat.
Salah satu peserta KELANA dari SMA Negeri 1 Depok, Sheikha Lana, mengatakan pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk mengajak generasi muda lainnya lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.
“Apa yang bisa dibagikan adalah aku bisa membagikan konten-konten kemudian aku bisa membagikan kepada teman-teman bagaimana kita sebagai generasi muda bisa mengolah sampah menuju ke Indonesia yang bersih di kemudian hari,”ujar Sheikha Lana.
Melalui program KELANA, KLH/BPLH mendorong generasi muda tidak hanya memahami pentingnya penggunaan transportasi publik yang rendah emisi, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam menyebarluaskan edukasi dan budaya hidup berkelanjutan di masyarakat.









