TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong penguatan subsektor kuliner berbasis gastronomi melalui pengembangan inovasi kopi lokal khas Indonesia. Hal itu disampaikan saat menerima audiensi Kedai Kopi Jo di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Irene menyoroti keunikan produk Kopi Jo yang menghadirkan cita rasa kopi nusantara melalui teknik fermentasi dan peraman (aging) khas.
Menurutnya, inovasi semacam ini menjadi kekuatan baru ekonomi kreatif Indonesia yang memiliki potensi besar untuk diperkenalkan hingga pasar global.

"Buat aku ini merupakan sesuatu yang unik, kami siap berkolaborasi untuk memperkenalkan cita rasa kopi nusantara ini dari daerah untuk diperkenalkan ke nasional," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 7 Mei 2026.
Kemudian ia mengatakan, pemerintah melihat potensi kopi Indonesia tidak hanya dari sisi komoditas biji kopi, tetapi juga dari ragam olahan dan resep tradisional yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi. Produk berbasis kreativitas seperti kopi fermentasi dinilai dapat memperkuat identitas kuliner Indonesia di mata dunia.
Lebih lanjut, Irene juga mengungkapkan bahwa produk Kopi Jo telah diperkenalkan kepada delegasi negara sahabat sebagai bagian dari promosi kekayaan kuliner Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas eksposur produk kreatif lokal ke pasar internasional.
Kopi Jo sendiri merupakan kedai kopi asal Yogyakarta yang berkembang sejak 2009. Produk unggulannya memadukan kopi dan rempah melalui proses fermentasi khusus yang menghasilkan karakter rasa berbeda.
Pemilik Kopi Jo, Johanes Tan Joana Jaja, menjelaskan proses aging dilakukan selama enam hingga tujuh bulan untuk menciptakan rasa khas pada produknya.
"Dengan karakteristik asam akan naik. Itu yang kita peram nantinya, kita aging lagi cuma tambah gula, masukin ke toples dengan waktu 6–7 bulan. Itu yang nantinya akan diambil panen," jelas Johanes.
Founder Gastronusa, Edwin Pangestu, menilai inovasi menu kopi seperti ini penting diperkenalkan agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai penjual biji kopi mentah, tetapi juga memiliki kekayaan intelektual kuliner berbasis kopi.
"Agar jika kita mau ngomongin kopi kan bukan hanya jualan komoditi biji kopinya, tetapi menu seperti ini harus diperkenalkan karena ini adalah salah satu kekayaan intelektual juga sebenarnya," kata Edwin.
Audiensi tersebut turut dihadiri pemilik Kopi Jo Chrisanty Evielina Rosario, Business Development Director Gastronusa Vivin Puspitarini, serta jajaran Kementerian Ekraf.










