TVRINews – Jakarta
Pemerintah mengintegrasikan skrining kesehatan gratis dan rehabilitasi 8.000 rumah pasien untuk menekan angka penularan nasional
Pemerintah Indonesia meluncurkan strategi komprehensif untuk mengakselerasi eliminasi Tuberkulosis (TBC) dengan mengombinasikan penguatan infrastruktur medis dan perbaikan lingkungan tempat tinggal pasien, guna mengejar target nasional pengobatan yang kini tengah menunjukkan tren positif.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa hingga awal Mei 2026, otoritas kesehatan telah mengidentifikasi lebih dari 241.000 kasus TBC di seluruh penjuru negeri.
Dari jumlah tersebut, inisiasi pengobatan tercatat telah menyentuh angka 84 persen, mendekati target nasional sebesar 95 persen.

(Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari (Foto: Bakom RI))
"Keberhasilan pengobatan saat ini berada pada angka 80 persen dari target yang ditetapkan sebesar 90 persen," ujar Qodari dalam keterangannya yang di kutip kamis 7 Mei 2026.
Transformasi Skrining dan Kapasitas Medis
Sebagai bagian dari penguatan sistem deteksi dini, pemerintah telah mengintegrasikan skrining TBC ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi Kementerian Kesehatan sejak tahun 2025. Upaya ini didukung dengan pendistribusian teknologi medis mutakhir ke tingkat akar rumput.
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) kini mulai dilengkapi dengan perangkat Near Point of Care (nPOC) dan fasilitas X-Ray guna mempercepat diagnosis.
Modernisasi alat ini diharapkan mampu memangkas waktu tunggu hasil laboratorium sehingga pasien dapat segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Perbaikan Hunian sebagai Garis Pertahanan
Satu terobosan signifikan dalam kebijakan tahun ini adalah fokus pada aspek sanitasi dan kelayakan hunian.
Pemerintah menargetkan renovasi terhadap 8.000 rumah pasien TBC yang berada di wilayah dengan beban kasus tertinggi. Program ini merupakan lonjakan besar dibandingkan periode 2020–2023 yang hanya mencakup 300 rumah per tahun.
Qodari menekankan bahwa kondisi rumah yang sehat sangat krusial dalam memutus rantai transmisi bakteri.
Menurutnya, lingkungan hunian yang tidak memenuhi standar kesehatan seringkali menjadi faktor utama penghambat kesembuhan serta pemicu penularan di lingkup keluarga.
"Rumah layak huni adalah garis pertahanan pertama melawan penularan TBC," tegas Qodari. Ia menambahkan bahwa sejauh ini, sebanyak 5.453 unit rumah telah masuk dalam usulan perbaikan melalui aplikasi SIBARU.
Pemberdayaan Komunitas Lokal
Di tingkat akar rumput, strategi penanganan diperkuat melalui optimalisasi 6.484 desa dan kelurahan "Siaga TBC" yang tersebar di 23 provinsi.
Melalui pemberdayaan ini, diharapkan pengawasan terhadap kepatuhan minum obat pasien dapat dilakukan secara lebih personal dan intensif.
Indonesia, yang secara historis merupakan salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia, kini tengah berupaya keras mengubah paradigma penanganan dari sekadar pengobatan medis menjadi intervensi lingkungan yang menyeluruh untuk mencapai target eliminasi pada masa mendatang.










