TVRINews, Tangerang
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Moch. Irfan Yusuf, melepas keberangkatan Musrif Diny di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa, 12 Mei 2026. Keberangkatan para pembimbing ibadah tersebut menjadi bagian dari penguatan layanan manasik bagi jemaah haji Indonesia pada penyelenggaraan haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Dalam arahannya, Irfan Yusuf menegaskan Musrif Diny memiliki peran penting sebagai konsultan ibadah yang bertugas mendampingi jemaah agar dapat menjalankan rangkaian ibadah haji secara benar, sahih, dan nyaman selama berada di Tanah Suci.
“Musrif Diny bukan sekadar pendamping ibadah, tetapi penjaga kualitas manasik jemaah. Mereka memiliki tugas mulia untuk memastikan ibadah haji dilaksanakan secara sahih, tertib, dan tetap memberi kemudahan bagi jemaah sesuai prinsip syariat,” ujar Irfan Yusuf dalam keterangan tertulis, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurutnya, keberadaan Musrif Diny menjadi bagian penting dalam mendukung konsep Tri Sukses Haji, khususnya pada aspek sukses ritual. Dua pilar lainnya dalam konsep tersebut ialah sukses ekosistem ekonomi haji serta sukses peradaban dan keadaban.
Karena itu, para Musrif Diny diharapkan tidak hanya memahami teknis manasik, tetapi juga mampu memberikan bimbingan yang menenangkan dan memperkuat pemahaman spiritual jemaah.
“Dalam Tri Sukses Haji, Musrif Diny berada di garda penting untuk memastikan sukses ritual. Mereka bertugas menjaga kesucian ibadah, membimbing manasik secara sahih, serta memastikan jemaah memahami kemudahan-kemudahan syariat tanpa kehilangan makna spiritual haji,”jelasnya.
Menhaj juga menyoroti pentingnya pemahaman fikih taisir atau fikih kemudahan dalam layanan bimbingan ibadah. Hal itu dinilai penting mengingat kondisi jemaah Indonesia yang beragam, mulai dari lanjut usia hingga jemaah dengan keterbatasan kesehatan.
“Jemaah kita tidak semuanya berada dalam kondisi fisik yang sama. Ada lansia, ada yang memiliki keterbatasan kesehatan, dan ada situasi lapangan yang membutuhkan keputusan cepat. Di sinilah Musrif Diny harus hadir dengan pemahaman fikih yang kokoh, tetapi tetap adaptif dan memberi solusi,” tegasnya.
Ia menjelaskan sejumlah skema layanan ibadah, seperti Safari Wukuf Khusus, Murur di Muzdalifah, dan Tanazul di Mina, membutuhkan pendampingan yang tepat agar jemaah memahami dasar syariat dari pelaksanaannya.
“Safari Wukuf, Murur, maupun Tanazul bukan sekadar pengaturan teknis. Di dalamnya ada landasan fikih yang harus dipahami dan disampaikan dengan baik kepada jemaah. Musrif Diny harus menjadi rujukan yang menenteramkan,”ucapnya.
Di akhir arahannya, Irfan Yusuf meminta para Musrif Diny menjaga integritas, kesabaran, dan keikhlasan selama menjalankan tugas di Tanah Suci. Ia berharap para pembimbing ibadah dapat hadir dekat dengan jemaah dan menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan haji Indonesia.
“Kami berharap para Musrif Diny menjadi penguat layanan ibadah di Tanah Suci. Bimbinglah jemaah dengan ilmu, layani dengan hati, dan jadikan setiap pendampingan sebagai bagian dari pengabdian kepada umat,” tandasnya.










