TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pembangunan industri nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan, seiring dengan agenda dekarbonisasi industri dan transisi menuju energi bersih di Indonesia.
Salah satu fokus utama pemerintah adalah penguatan pengelolaan air bersih dan air limbah di kawasan industri, yang dinilai semakin penting di tengah pesatnya pertumbuhan industri nasional.
Pengembangan teknologi pengolahan air terpadu dan sirkular dianggap menjadi solusi strategis untuk mendukung target industri hijau serta pencapaian net zero emission (NZE).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kawasan industri memiliki peran vital dalam menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong transformasi industri nasional.
“Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, khususnya pengolahan air baku dan air limbah, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,”ujar Agus dalam keterangan tertulis, Rabu, 13 Mei 2026.
Sebagai langkah konkret, Kemenperin bersama Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk proyek percontohan teknologi pengolahan air baku dan air limbah di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan sistem pengolahan air terpadu berbasis sirkular di kawasan industri, yang diharapkan mampu menghadirkan solusi pengelolaan air yang lebih efisien, modern, dan ramah lingkungan.
Berdasarkan data Kemenperin, hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare. Kawasan tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai investasi mencapai Rp6.744,58 triliun serta menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja.
Pertumbuhan kawasan industri yang mencapai 49,15 persen dalam lima tahun terakhir turut meningkatkan kebutuhan sistem pengelolaan air dan limbah yang andal.
Dalam proyek ini, Qiaoyin City Management Co., Ltd. memperkenalkan teknologi Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB), yaitu sistem pengolahan air limbah yang diklaim lebih efisien dari sisi biaya dan penggunaan lahan.
Perwakilan Qiaoyin, Wan Yiming, mengatakan teknologi tersebut mampu memberikan efisiensi signifikan dibanding metode konvensional.
“Teknologi DIAB dapat memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen,”ungkap Wan.
Ia menambahkan, penggunaan sistem prefabrikasi juga memungkinkan fasilitas pengolahan beroperasi lebih cepat hingga empat kali lipat dibanding sistem biasa.
Proyek percontohan ini direncanakan diterapkan di lima kawasan industri dengan masa implementasi awal selama enam bulan dan operasional hingga tiga tahun.
Menperin menegaskan bahwa program ini sejalan dengan penguatan ekosistem industri hijau nasional.
“Lima kawasan industri akan menjadi pilot project. Kita tidak hanya mencari sistem yang baik, tetapi juga model pengelolaan yang efektif dan mudah diterapkan,”ucapnya.
Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai penerapan teknologi pengolahan air modern akan meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia sekaligus menjawab tuntutan global terhadap praktik industri berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperluas kerja sama internasional untuk mendukung penerapan teknologi ramah lingkungan di kawasan industri.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada pilot project, tetapi juga mendorong investasi, transfer teknologi, peningkatan SDM, serta pengembangan industri berbasis inovasi,”kata Tri.










