TVRINews, Jakarta
Budi Luhur University mengembangkan sistem informasi manajemen Bank Sampah Darling berbasis website dan aplikasi mobile di Kampung Tematik Darling, Kelurahan Sudimara Jaya, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Pengembangan ini menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PKM) BIMA Tahun 2026.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut dipimpin oleh dosen Sri Rahayu bersama Mufti, serta melibatkan mahasiswa Nur Azizah, Kristovani Brigitta Setiawan, dan Zha Zha Junianita Putri.
Rektor Budi Luhur University Agus Setyo Budi mengatakan, Kampung Tematik Darling merupakan kawasan yang aktif mengembangkan pengelolaan lingkungan melalui Bank Sampah, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku UMKM. Namun, sistem administrasi bank sampah masih dilakukan secara manual sehingga dinilai kurang efisien.
“Selama ini pendataan nasabah, pencatatan transaksi penimbangan, hingga laporan keuangan masih dilakukan secara manual. Karena itu kami mengembangkan sistem informasi yang lebih mudah, akurat, dan transparan,” ujar Agus dalam keterangannya kutip Jumat, 28 Agustus 2026.
Melalui sistem tersebut, pengelola dapat mencatat data nasabah, transaksi, tabungan sampah, hingga menyusun laporan administrasi dan keuangan secara digital. Sementara masyarakat juga memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan bank sampah.
Rangkaian program dilaksanakan melalui sosialisasi, pengembangan aplikasi, pelatihan penggunaan teknologi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Menurut Agus, pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola sekaligus mendorong literasi digital masyarakat.
“Harapannya kemampuan manajemen Bank Sampah Darling semakin meningkat dan terbentuk unit usaha berbasis ekonomi sirkular yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta Tujuan 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim melalui digitalisasi pengelolaan sampah.
Pengembangan sistem informasi Bank Sampah Darling terlaksana berkat dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Program PKM BIMA Tahun 2026.

[Foto: Humas Budi Luhur University]
Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan, menegaskan pentingnya hilirisasi riset agar hasil penelitian yang dikembangkan perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Fauzan saat meninjau fasilitas Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) yang dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Pada kesempatan tersebut, ia menuturkan jika volume timbulan sampah di Indonesia yang mencapai 36,08 juta ton sepanjang 2024 berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup.
“Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi,” kata Fauzan.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menciptakan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat, termasuk pengelolaan sampah. Karena itu, hasil penelitian perlu didorong agar dapat diimplementasikan secara nyata dan memberikan dampak yang lebih luas.
Fauzan mengapresiasi langkah Unismuh Makassar yang mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis riset dan berorientasi pada pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai guna. Upaya tersebut dinilai relevan mengingat volume sampah di Sulawesi Selatan pada 2024 telah mencapai sekitar 1,21 juta ton.
“Yang paling penting adalah bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih fungsional dan bernilai guna. Inilah wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan Sustainable Waste Solutions Center, pengelolaan sampah dilakukan secara terintegrasi mulai dari proses pemilahan di sumber, penguatan bank sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga pengolahan sampah organik dan anorganik.
Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos, eco enzyme, pakan maggot, serta berbagai produk turunan seperti sabun dan lilin berbahan minyak jelantah. Sementara sampah anorganik dikelola melalui sistem bank sampah yang melibatkan sivitas akademika dan didukung kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Model tersebut juga menerapkan pemilahan sampah sejak dari unit-unit kerja di lingkungan kampus, mulai dari fakultas, asrama, hingga lembaga pendukung lainnya. Sampah dipisahkan berdasarkan kategori organik, anorganik, residu, dan bahan berbahaya serta beracun (B3) untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Selain sebagai pusat pengelolaan sampah, fasilitas SWSC juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan bagi mahasiswa. Kegiatan tersebut melibatkan relawan yang tergabung dalam komunitas Eco Ranger untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi sivitas akademika dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.










