TVRINews, Tangerang
Perkembangan kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan dunia kerja. Kondisi ini mendorong perguruan tinggi untuk semakin adaptif dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi perubahan dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Direktur Kampus BINUS @Alam Sutera, Prof. Dr. Lim Sanny, menegaskan mahasiswa tidak hanya membutuhkan bekal teori selama menempuh pendidikan tinggi. Kemampuan beradaptasi, kreativitas, pemahaman bisnis, dan literasi teknologi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki generasi muda di era digital. Menurut Prof. Lim, pemanfaatan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung aktivitas manusia, bukan sebaliknya.
“Kita memanfaatkan AI, bukan AI yang memanfaatkan manusia gitu ya. Jadi bagaimana AI itu bisa mempermudah tapi juga tidak mengedalikan,” ucap Prof. Lim, Senin, 22 Juni 2026.
Ia mengingatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis tetap menjadi keunggulan utama manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Tapi kembali lagi, manusia yang memiliki creative thinking, critical thinking. Manusia yang menciptakan AI itu sendiri,” lanjutnya.
Prof. Lim menjelaskan pendekatan pembelajaran di BINUS tidak hanya mengintegrasikan AI dalam kegiatan perkuliahan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.
Melalui ekosistem pembelajaran tersebut, mahasiswa didorong memahami cara kerja AI, memanfaatkan teknologi secara kritis dan etis, serta memahami dampaknya terhadap dunia profesional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BINUS mempersiapkan lulusan yang adaptif, relevan dengan kebutuhan industri, dan siap menghadapi perkembangan dunia kerja.
Penggunaan AI dalam proses pembelajaran, kata Prof. Lim, tetap memiliki aturan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata kuliah.
“Sehingga ada rambu-rambu khusus yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, mereka bisa mengeksplore awalnya,” ujarnya.
“Dan bagaimana pengembangan ke depannya dengan critical thinking dan juga creative thinking dari mahasiswa itu. Jadi strategi yang dilakukan Binus University, kita akan melihat per mata kuliah. Tentunya setiap mata kuliah tidak mempunyai pendekatan yang sama terhadap penggunaan AI. Berapa persen AI yang boleh dilakukan di sana. Dan pastinya ada rambu-rambu khususnya,” terang Prof. Lim.
Ia juga menjelaskan penerapan mekanisme pemantauan penggunaan AI dalam tugas mahasiswa. Setiap proses penggunaan AI harus disertai dokumentasi perintah atau (prompt) yang digunakan sehingga dosen dapat mengukur sejauh mana pemanfaatan teknologi tersebut dalam proses belajar.
“Dan setiap mahasiswa melakukan prompt, prompt itu juga harus disertakan. Dan tugas-tugas pun kita mempunyai kalibrasi untuk melihat berapa persen penggunaan AI-nya. Jadi bukan hanya memasukkan prompt, kemudian hasil dari AI langsung disubmit. Tapi tetap eksplorasi pertamanya menggunakan AI, setelah itu mahasiswa harus mengembangkan sesuai dengan critical thinking dia di bidang-bidang tertentu,” jelasnya.
Selain penguatan literasi AI, Prof. Lim menerangkan pihaknya juga menghadirkan “Enrichment Program” yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia industri sebelum lulus. Program ini dirancang untuk membantu mahasiswa memahami dinamika dunia kerja sekaligus membangun kompetensi dan portofolio sejak masa kuliah.
Menurutnya, pengalaman praktis tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah seiring perkembangan teknologi.
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan dunia kerja. Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk semakin adaptif dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi perubahan serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Direktur Kampus BINUS @Alam Sutera, Prof. Dr. Lim Sanny, menegaskan mahasiswa tidak hanya membutuhkan bekal teori selama menempuh pendidikan tinggi. Kemampuan beradaptasi, kreativitas, pemahaman bisnis, dan literasi teknologi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki generasi muda di era digital.
Menurut Prof. Lim, pemanfaatan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung aktivitas manusia, bukan sebaliknya.
“Kita memanfaatkan AI, bukan AI yang memanfaatkan manusia gitu ya. Jadi bagaimana AI itu bisa mempermudah tapi juga tidak mengedalikan,” ucap Prof. Lim, Senin, 22 Juni 2026.
Ia mengingatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis tetap menjadi keunggulan utama manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Tapi kembali lagi, manusia yang memiliki creative thinking, critical thinking. Manusia yang menciptakan AI itu sendiri,” lanjutnya.
Kemudian, pendekatan pembelajaran tidak hanya mengintegrasikan AI dalam kegiatan perkuliahan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.
Melalui ekosistem tersebut, mahasiswa didorong untuk memahami cara kerja AI, memanfaatkan teknologi secara kritis dan etis, serta memahami dampaknya terhadap dunia profesional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BINUS dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif, relevan dengan kebutuhan industri, dan siap menghadapi masa depan karier yang terus berkembang.
Prof. Lim menjelaskan penggunaan AI dalam proses pembelajaran tetap memiliki aturan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata kuliah.
“Sehingga ada rambu-rambu khusus yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, mereka bisa mengeksplore awalnya,” ujarnya.
“Dan bagaimana pengembangan ke depannya dengan critical thinking dan juga creative thinking dari mahasiswa itu. Jadi strategi yang dilakukan Binus University, kita akan melihat per mata kuliah. Tentunya setiap mata kuliah tidak mempunyai pendekatan yang sama terhadap penggunaan AI. Berapa persen AI yang boleh dilakukan di sana. Dan pastinya ada rambu-rambu khususnya,” terang Prof. Lim.
Ia juga mejelaskang penerapan mekanisme pemantauan penggunaan AI dalam tugas mahasiswa. Setiap proses penggunaan AI harus disertai dokumentasi perintah atau prompt yang digunakan sehingga dosen dapat mengukur sejauh mana pemanfaatan teknologi tersebut dalam proses belajar.
“Dan setiap mahasiswa melakukan prompt, prompt itu juga harus disertakan. Dan tugas-tugas pun kita mempunyai kalibrasi untuk melihat berapa persen penggunaan AI-nya. Jadi bukan hanya memasukkan prompt, kemudian hasil dari AI langsung disubmit. Tapi tetap eksplorasi pertamanya menggunakan AI, setelah itu mahasiswa harus mengembangkan sesuai dengan critical thinking dia di bidang-bidang tertentu,” jelasnya.
Selain penguatan literasi AI, Prof. Lim menerakan bagaimana Enrichment Program dihadirkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia industri sebelum lulus. Program ini dirancang untuk membantu mahasiswa memahami dinamika dunia kerja sekaligus membangun kompetensi dan portofolio sejak masa kuliah.










