TVRINews, Palangka Raya
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto memimpin Rapat Koordinasi Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya.
Rapat tersebut membahas penguatan operasi gabungan antara Satgas Darat dan Satgas Udara serta kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) untuk menangani karhutla secara cepat dan terukur.
Suharyanto mengapresiasi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalimantan Tengah, terutama Satgas Darat yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan mahasiswa.
Menurut Suharyanto, Satgas Darat menjadi tulang punggung penanganan karhutla karena secara konsisten mampu memadamkan lebih dari 100 hektare lahan terbakar setiap hari.
Berdasarkan data perkembangan penanganan karhutla per Kamis, 10 September 2026, teridentifikasi 90 titik api dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 212,3 hektare.
Dari jumlah tersebut, Satgas Darat telah berhasil mengendalikan kebakaran di lahan seluas 141,1 hektare. Sementara itu, masih terdapat 71,2 hektare lahan terbakar yang menjadi prioritas penanganan.
"Sinergi dan kinerja Satgas Darat di Kalimantan sangat luar biasa. Di Kalimantan Tengah sendiri, per hari ini Satgas berhasil memadamkan 71,2 hektare sisa lahan terbakar. Kerja keras jajaran TNI-Polri dan seluruh relawan di lapangan merupakan kunci utama pengendalian karhutla," ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Sabtu, 12 September 2026.
Untuk mengoptimalkan penanganan di sejumlah titik kritis, BNPB menginstruksikan agar pergeseran armada helikopter pemadam melalui operasi pengeboman air atau water bombing segera direalisasikan ke wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Wilayah tersebut antara lain Kabupaten Kapuas dengan 16 titik api dan estimasi luas lahan terbakar mencapai 58 hektare.
Selanjutnya, Kabupaten Kotawaringin Timur atau Sampit dengan luas lahan terbakar 55,6 hektare dan 16 titik api, serta Kabupaten Seruyan dengan 13 titik api dan luas lahan terbakar 21,89 hektare. Pengerahan armada tersebut dilakukan sesuai rekomendasi Gubernur Kalimantan Tengah.
Suharyanto menekankan pengoperasian helikopter water bombing harus diintegrasikan secara presisi dengan pergerakan Satgas Darat. Helikopter akan difokuskan untuk memblokir titik api berskala besar atau area yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dengan demikian, operasi yang membutuhkan biaya tinggi tersebut dapat memberikan dampak maksimal terhadap upaya pengendalian karhutla.
BNPB memastikan dukungan peralatan pemadaman darat serta tambahan personel dari Mabes TNI dan instansi terkait akan terus disalurkan untuk memperkuat penanganan di daerah. Seluruh unsur Satgas juga diminta mempertahankan komitmen dan sinergi hingga memasuki puncak musim hujan alami.










