TVRINews, Aceh Tamiang
Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong pemulihan ekosistem ekonomi kreatif di Aceh Tamiang pascabencana. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan kembali ruang-ruang publik yang sempat terdampak banjir sebagai wadah aktivasi kegiatan kreatif masyarakat.
Langkah itu diwujudkan melalui lokakarya "Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih" yang digelar di Aula Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat, 11 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Ekraf Peduli "Pulih Bersama, Bangkit Berdaya", sekaligus implementasi Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan, pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur yang terdampak, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali produktif dan memiliki ketahanan ekonomi.

"Saya merasa bahagia melihat semangat untuk bangkit dari Aceh Tamiang. Kami hadir dalam upaya pemberdayaan ekonomi pascabencana, amanah yang diberikan kepada kami hari ini adalah bagaimana mendorong ekosistem ekonomi kreatif agar dapat kembali bergerak dan tumbuh lebih besar," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 12 September 2026.
Menurutnya, sektor ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi masyarakat di daerah terdampak bencana. Penguatan sektor tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas masyarakat sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru.
"Langkah pemulihan pascabencana tidak sekadar memperjelas perbaikan fisik semata, melainkan juga berfokus pada penguatan fondasi ekonomi kreatif masyarakat daerah," katanya.
Kemudian, Riefky menyebut sektor ekonomi kreatif telah memberikan kontribusi sebesar 7,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Karena itu, potensi ekonomi kreatif di daerah, termasuk Aceh Tamiang, perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam lokakarya tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai mitigasi risiko dan ketahanan usaha hingga strategi promosi melalui media digital. Pelatihan diharapkan membantu pelaku usaha beradaptasi dengan kondisi pascabencana sekaligus memperluas pasar melalui pemanfaatan teknologi digital.
Sebanyak 80 peserta yang terdiri dari pengusaha lokal, penggerak komunitas, dan perintis usaha berusia 18–45 tahun mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni 11–12 September 2026.
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan, masyarakat perlu terus meningkatkan keterampilan dan membangun semangat untuk bangkit setelah bencana.
"Pesan saya, mari buat konten positif yang membangkitkan semangat. Daerah kita memang terdampak paling parah akibat bencana, 103 kantor dan jalan desa hancur, namun kita harus bangkit bersama," ucap Armia.
Melalui program tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya ketahanan bisnis lokal pascabencana serta peningkatan kemampuan adaptasi digital para pelaku ekonomi kreatif. Penguatan jejaring antarpelaku ekraf juga diharapkan dapat mendukung pemulihan ekonomi Aceh Tamiang secara berkelanjutan.
Salah satu peserta, Farouq, menilai pelatihan tersebut membantu pelaku usaha memahami cara memperkenalkan produk kepada masyarakat secara lebih luas melalui platform digital.
"Aktivasi Ruang Kreatif ini sangat bermanfaat, peserta dapat meningkatkan kreativitas, memperluas jaringan, membuka peluang bisnis serta memahami audiens," imbuh Farouq.










