TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan regulator menjadi kunci mempercepat lahirnya inovasi kesehatan sekaligus memperkuat kemandirian farmasi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri pembukaan Medical Expo FKUI 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran Ekosistem One Health Indonesia, Center of Excellence for Indonesia Health, serta vaksin tifoid Bio-TCVhasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan PT Bio Farma di Kampus FKUI Salemba, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Benjamin mengatakan pemerintah mendorong perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi pusat riset dan inovasi yang mampu menghasilkan produk kesehatan strategis bagi Indonesia.
"Saya berharap setiap fakultas kedokteran tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga menjadi pusat inovasi yang menghasilkan produk kesehatan untuk bangsa. Kita membutuhkan riset yang mampu diterjemahkan menjadi solusi nyata," kata Wamenkes Benny dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurutnya, pengembangan vaksin tuberkulosis (TB) menjadi salah satu prioritas nasional mengingat Indonesia masih termasuk negara dengan beban kasus TB tertinggi di dunia. Karena itu, pengembangan vaksin nasional memerlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), industri, dan regulator.
"Kita harus bekerja secara luar biasa untuk mengatasi TB. Selain pengobatan, penguatan skrining, pelacakan kontak, terapi pencegahan, hingga pengembangan vaksin nasional harus berjalan bersama," lanjutnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Taruna Ikrar, mengatakan penguatan ekosistem inovasi menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat dan vaksin.
"Kemandirian obat dan vaksin merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu kami mendukung penuh lahirnya inovasi vaksin karya anak bangsa, mulai dari proses pengembangan, uji klinik, hingga percepatan perizinannya," ungkap Taruna.
Taruna menambahkan, BPOM akan terus mengawal pengembangan produk kesehatan dalam negeri agar memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sehingga mampu bersaing di pasar global.
Pada kesempatan yang sama, FKUI dan PT Bio Farma meluncurkan vaksin tifoid Bio-TCV sebagai hasil kolaborasi riset dan pengembangan.
Direktur Utama PT Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan peluncuran vaksin tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghasilkan inovasi kesehatan nasional.
"Bio-TCV bukan sekadar produk baru, tetapi hasil kolaborasi panjang yang menunjukkan Indonesia mampu mengembangkan vaksin sendiri. Kami berharap ke depan vaksin ini dapat mendukung program imunisasi nasional," ujar Shadiq.
Sementara itu, Ketua Panitia Medical Expo FKUI 2026, Mohammad Kurniawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah yang mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem inovasi kesehatan di Indonesia.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan semakin banyak hasil riset yang dapat dihilirisasikan menjadi produk kesehatan, memperkuat ketahanan kesehatan nasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.










