TVRINews, Jakarta
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan terbaru terkait meningkatnya peluang terjadinya fenomena El Nino dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini dinilai berpotensi memicu gangguan cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia, termasuk wilayah Indonesia.
Dalam laporan terbarunya, WMO menyebutkan peluang terbentuknya El Nino mencapai sekitar 80 persen pada periode Juni hingga Agustus, dan meningkat hingga 90 persen pada akhir tahun. El Nino sendiri merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola iklim global.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa dunia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena tersebut.
“Ilmu pengetahuan sudah sangat jelas. El Nino akan segera terjadi dalam beberapa bulan ke depan dengan tingkat kepastian mencapai 90 persen. Ini harus menjadi peringatan serius bagi dunia,” ujar Antonio Guterres, dikutip dari Euro News, Rabu, 3 Juni 2026.
WMO menjelaskan, El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara periodik setiap dua hingga tujuh tahun dan dapat berlangsung hampir satu tahun. Dampaknya tidak hanya terbatas pada satu wilayah, tetapi meluas secara global melalui perubahan pola angin, tekanan udara, dan curah hujan.
Sejumlah wilayah diperkirakan akan mengalami peningkatan curah hujan, di antaranya bagian selatan Amerika Selatan, sebagian Amerika Serikat, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, kekeringan berisiko terjadi di Indonesia, Australia, Amerika Tengah, serta sebagian wilayah Asia Selatan.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyebut El Nino berpotensi memperburuk kondisi masyarakat yang sudah rentan terhadap perubahan iklim.
“Kelompok masyarakat yang sudah terdampak akan menghadapi tekanan yang lebih berat dan melampaui batas kemampuan adaptasi mereka,” kata Celeste Saulo.
Selain dampak cuaca ekstrem, para peneliti dari Imperial College London dan jaringan ilmuwan World Weather Attribution juga mengingatkan adanya peningkatan risiko kebakaran hutan di sejumlah negara akibat kondisi yang lebih kering dan panas.
Sejumlah negara Eropa seperti Yunani, Italia, Prancis, Spanyol, dan Portugal dilaporkan mulai memperkuat kesiapsiagaan, termasuk menambah armada dan personel pemadam kebakaran untuk menghadapi potensi kebakaran hutan.
Fenomena El Nino sebelumnya pada 2023–2024 juga disebut berkontribusi terhadap kenaikan suhu global yang menjadikan 2024 sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah pencatatan suhu bumi.
Di sektor ekonomi, dampak El Nino juga diperkirakan dapat memengaruhi produksi komoditas pangan. CEO Barry Callebaut, Hein Schumacher, mengingatkan potensi penurunan hasil panen kakao di Afrika Barat dan Ekuador yang merupakan pemasok utama global.
“Kami melihat El Nino sebagai faktor risiko yang dapat menekan produksi dan berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas,” ujarnya.
WMO menegaskan kembali pentingnya upaya global dalam menghadapi perubahan iklim, termasuk percepatan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan guna mengurangi dampak cuaca ekstrem di masa mendatang.










