TVRINews, Denpasar
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan penguatan sumber daya manusia dan keamanan siber menjadi kunci bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Edwin, perkembangan teknologi digital harus diimbangi dengan kesiapan tenaga ahli, infrastruktur yang memadai, serta sistem pelindungan data yang kuat. Langkah tersebut diperlukan agar pemanfaatan AI tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada masyarakat.
“Keamanan siber merupakan investasi strategis untuk pertumbuhan dan inovasi,” ujar Edwin saat membuka AI, Cybersecurity, and Innovation Exchange (AICX) 2026 dalam rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Rabu, 21 Oktober 2026.
Edwin menilai keamanan siber perlu dibangun sejak tahap awal pengembangan teknologi atau dikenal dengan prinsip safety by design. Dengan pendekatan ini, aspek keamanan menjadi bagian dari perencanaan dan penerapan teknologi, bukan sekadar tindakan setelah muncul gangguan atau serangan.
Ia menjelaskan, keamanan siber memiliki peran lebih luas daripada hanya melindungi sistem ketika terjadi insiden. Keamanan juga menjadi bagian penting dalam mengendalikan risiko, mendeteksi potensi ancaman, serta memastikan pengelolaan dan pertukaran data berlangsung secara aman.
“Keamanan siber bukan sekadar sabuk pengaman bagi seluruh transformasi digital. Perannya jauh lebih luas daripada itu,” tegas Edwin.
Menurutnya, kebutuhan tersebut semakin penting seiring meluasnya pemanfaatan AI dan berkembangnya teknologi komputasi kuantum. Tanpa sistem keamanan yang memadai, risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi dapat menghambat kepercayaan masyarakat terhadap inovasi digital.
Karena itu, Edwin mendorong pemerintah, industri, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan pelindungan data sebagai bagian utama dalam membangun ekosistem digital nasional.
Selain keamanan teknologi, Edwin menyoroti kebutuhan Indonesia terhadap tenaga profesional yang mampu mengembangkan dan mengelola teknologi masa depan. Talenta yang dibutuhkan antara lain insinyur AI, ahli keamanan siber, ilmuwan data, pembuat kebijakan, serta tenaga pendidik.
Pengembangan kompetensi juga perlu menyasar pekerja yang telah memasuki dunia profesional. Melalui peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling), tenaga kerja diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan industri akibat perkembangan teknologi.
“Transformasi digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika masyarakat memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi di dalamnya,” kata Edwin.
Ia menambahkan, kesiapan talenta menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi dan menciptakan nilai ekonomi dari perkembangan AI.
Kolaborasi Jadi Fondasi Ekosistem Digital
Edwin menegaskan pembangunan ekosistem digital yang aman dan tepercaya membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil.
Pemerintah berperan menyiapkan kebijakan dan regulasi, sementara industri mengembangkan serta menerapkan teknologi. Akademisi turut memperkuat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan masyarakat sipil berperan mendorong akuntabilitas serta memastikan kepentingan publik tetap diperhatikan.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pemanfaatan teknologi berlangsung secara bertanggung jawab dan dapat diakses oleh masyarakat secara lebih luas.
“Indonesia merupakan pasar yang besar bagi teknologi digital. Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai pencipta inovasi,” ujar Edwin.
Ia berharap investasi berkelanjutan pada pengembangan talenta, infrastruktur, dan keamanan siber dapat memperkuat daya saing Indonesia di era AI. Dengan kesiapan tersebut, transformasi digital diharapkan mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap teknologi.










