TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Dante Saksono Harbuwono secara resmi membuka gelaran The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit yang diselenggarakan di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Pertemuan puncak yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) ini mengusung tema Colorectal Cancer Screening and Management: Bridging Gaps for Early Detection and Better Outcomes. Langkah ini menjadi momentum penting bagi Kementerian Kesehatan dalam merangkul para pakar demi menyempurnakan peta jalan skrining kanker di tanah air.
Dalam pidato sambutannya, Wamenkes Dante Saksono Harbuwono membeberkan fakta memprihatinkan terkait penanganan kanker kolorektal di Indonesia saat ini. Ia mengungkapkan bahwa mayoritas pasien kanker usus besar tersebut baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika penyakitnya sudah memasuki stadium akhir.
"Izinkan saya membuka sambutan ini dengan fakta yang seharusnya menggerakkan kita semua menuju kenyataan. Jika ada 100 pasien kanker kolorektal yang datang ke fasilitas kesehatan kita hari ini, lebih dari 70 di antaranya akan tiba dalam stadium lanjut. Bukan karena mereka ceroboh, dan bukan pula karena tidak ada obatnya, melainkan karena tidak ada yang mendeteksinya cukup dini," ujar Dante di hadapan para pakar kesehatan dan tamu undangan.
Dante menyebut kondisi tersebut sebagai sebuah tragedi besar yang harus diakhiri bersama. Menurut data yang dipaparkannya, kanker kolorektal merupakan salah satu tantangan paling mendesak dalam dunia onkologi global.
"Global record lebih dari 1,9 juta kasus baru setiap tahunnya, menjadikannya kanker paling umum ketiga di dunia. Di Indonesia, kanker ini menempati peringkat keempat dalam hal kasus baru dan peringkat kelima dalam kematian akibat kanker, merenggut lebih dari 19.000 nyawa setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sebuah krisis yang menuntut respons bersama," tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini telah mengintegrasikan skrining kanker kolorektal ke dalam program pemeriksaan kesehatan gratis nasional. Program ini secara khusus menargetkan masyarakat dewasa yang telah berusia 45 tahun ke atas.
Dante menjelaskan bahwa Kemenkes menerapkan pendekatan berlapis dalam program tersebut. Proses penapisan dimulai dengan kuesioner skrining kolorektal Asia Pasifik, yang kemudian diikuti dengan pemeriksaan colok dubur atau digital rectal examination dan tes darah samar feses atau fecal occult blood test bagi individu berisiko tinggi.
Berdasarkan penelitian awal dari program yang berjalan, Kemenkes menemukan data yang mengejutkan sekaligus mengungkap adanya kesenjangan penanganan di lapangan. Dari total 5 juta peserta yang telah menjalani skrining, tim medis berhasil mengidentifikasi 9.000 temuan positif melalui pemeriksaan colok dubur dan 2.000 temuan positif dari hasil tes darah samar feses.
"Dan itu baru di antara mereka yang menindaklanjuti pemeriksaan. Bayangkan berapa banyak kasus yang tetap tidak terdeteksi di antara mereka yang belum diperiksa," tambah Dante.
Oleh karena itu, ia menilai tema pertemuan tahun ini mengenai menjembatani kesenjangan deteksi dini bukan lagi sekadar slogan yang menginspirasi, melainkan sebuah peta jalan yang wajib dibangun bersama secara nyata.
"Kita tahu bahwa deteksi dini bukan sekadar sebuah aspirasi. Ini adalah kebijakan yang menghasilkan dampak nyata dan terukur. Oleh karena itu, saya berharap dari forum ini kita akan menghasilkan rekomendasi taktis yang konkret bagi Indonesia terkait program skrining nasional—salah satunya yang adaptif, berbasis bukti, dan menjangkau setiap segmen masyarakat," tuturnya.
Dante juga menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat berjalan sendirian dalam menyelesaikan tantangan besar ini. Kemenkes membutuhkan kontribusi keahlian, transfer pengetahuan klinis ke tingkat layanan kesehatan primer atau puskesmas, edukasi masif kepada masyarakat, hingga advokasi kebijakan yang didasarkan pada akurasi data dari para pakar yang hadir.
"Setiap jembatan kolaborasi yang kita bangun hari ini adalah kesempatan yang lebih baik, setidaknya bagi ratusan ribu masyarakat Indonesia yang sedang menunggu di luar sana," pungkas Dante sebelum secara resmi mengetuk palu tanda dibukanya Gastrointestinal Oncology Summit 2026.










