TVRINews, Jakarta
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, mengatakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dirancang untuk memberikan fleksibilitas belajar bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti sekolah reguler karena harus bekerja, membantu orang tua, atau tinggal di daerah dengan keterbatasan akses pendidikan.
Dalam Coffee Morning bertajuk Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh di Jakarta, Tatang menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengolahan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), penyebab anak tidak melanjutkan sekolah berbeda-beda di setiap daerah.
Ia menemukan, di sejumlah wilayah berbasis pertanian, seperti beberapa daerah di Sulawesi, banyak anak harus membantu orang tua saat musim panen. Meski tidak selalu bekerja di sawah, mereka mengambil alih pekerjaan rumah tangga sehingga tidak dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
Sementara itu, di kawasan industri seperti Jabodetabek, Sidoarjo, Surabaya, hingga Semarang, angka putus sekolah cenderung lebih tinggi karena banyak remaja memilih bekerja setelah lulus SMP atau ketika masih menempuh pendidikan SMA.
Menurut Tatang, kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah menghadirkan PJJ dengan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel. Peserta didik dapat mempelajari modul secara mandiri pada waktu luang, seperti setelah bekerja atau pada akhir pekan, kemudian memperoleh pendampingan guru secara berkala melalui pembelajaran daring.
"Dengan PJJ, anak-anak yang harus membantu orang tua bekerja tetap bisa belajar tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya. Sistemnya fleksibel, tetapi mutu pembelajarannya tetap dijaga," ujar Tatang dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta Selatan, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menambahkan, skema tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh anak yang tinggal di daerah terpencil dengan akses internet terbatas melalui penggunaan modul pembelajaran, maupun oleh peserta didik yang memiliki aktivitas khusus, seperti atlet yang menjalani latihan intensif.
Tatang berharap PJJ menjadi alternatif pendidikan yang mampu menjangkau lebih banyak anak Indonesia, sehingga mereka tetap dapat menyelesaikan pendidikan menengah meski menghadapi berbagai keterbatasan.









