TVRINews – OIKN, Kalimantan Timur
Intervensi Atmosfer Darurat Diterapkan Guna Menyelamatkan Cadangan Air Waduk Sepaku Serta Meredam Eskalasi Kebakaran Lahan di Kalimantan Timur
Di tengah tekanan fenomena iklim global yang memperpanjang musim kering, koalisi lintas lembaga pemerintah Republik Indonesia meluncurkan intervensi atmosfer secara intensif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI Angkatan Udara, BNPB, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah strategis melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) demi memulihkan neraca hidrologi di kawasan strategis nasional serta menekan eskalasi kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas.

(Otorita IKN saat melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Senin 24/08/2016.(Foto: Humas OIKN))
Berdasarkan laporan resmi dari otoritas pengelola kawasan, volume cadangan air pada Waduk Sepaku yang diproyeksikan sebagai sumber utama pasokan air baku bagi wilayah Ibu Kota Nusantara mengalami penurunan signifikan sejak bulan Juli akibat hantaman fenomena El Nino. Penurunan volume ini menuntut tindakan rekayasa cuaca terukur guna memancing pertumbuhan awan potensial di atas wilayah sasaran.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan bahwa esensi dari teknologi rekayasa ini bukanlah menciptakan curah hujan dari ketiadaan, melainkan memaksimalkan kapasitas hidrologis awan yang sudah terbentuk di langit.
Ketika indikator atmosfer menunjukkan parameter yang kondusif, armada penerbangan menyemai bahan higroskopis untuk mempercepat proses kondensasi dan memperluas cakupan wilayah jatuhnya air hujan.
"Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya." — Budi Harsoyo, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG pada keterangan Resminya selasa 25 Agustus 2026.
Pemantauan meteorologis mencatat bahwa anomali iklim telah memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori Sangat Pendek hingga Panjang di berbagai kabupaten di Kalimantan Timur.
Durasi kering terpanjang tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser yang mengalami masa tanpa curah hujan hingga 28 hari berturut-turut per tanggal 20 Agustus 2026. Di samping itu, jumlah titik panas yang terdeteksi di seluruh wilayah Kaltim melonjak tajam hingga melampaui angka 13.000 titik, mencatatkan peningkatan sekitar 35,5 persen dibandingkan rekor periode serupa pada puncak musim kemarau dekade lalu.
Menghadapi potensi ancaman ekologis yang masih membayangi hingga akhir bulan ini, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, mengonfirmasi bahwa jajaran pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan Masyarakat Peduli Api telah menyiagakan posko taktis di lapangan.
Meskipun status penanganan di daerah masih dipertahankan pada level Siaga Bencana, koordinasi ketat terus digalakkan guna mengantisipasi eskalasi titik api yang saat ini terpantau mencapai kisaran 200 titik aktif.
Selain memfokuskan intervensi di kawasan IKN dan Kabupaten Berau di mana operasi penyemaian dilangsungkan berdasarkan permintaan resmi kepala daerah jaringan operasional nasional BMKG juga mengoperasikan posko strategis di berbagai simpul penting regional, termasuk Pekanbaru, Palembang, dan Pontianak, guna meredam dampak kabut asap di pulau Sumatera dan Kalimantan.










