TVRINews, NTT
Kementerian Sosial memberikan layanan dukungan psikososial (LDP) bagi pengungsi korban bencana gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Layanan tersebut difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis masyarakat dan diprioritaskan bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia.
Subcluster LDP diaktifkan pada hari ketiga masa pengungsian dengan melibatkan 18 lembaga dan NGO. Pendampingan kelompok non-anak dilakukan bersama tim Kementerian Sosial, sementara sebagian besar lembaga menangani layanan untuk anak-anak.
Tim LDP juga melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi psikologis para korban. Hasil asesmen menunjukkan sekitar 19 persen korban berada dalam kategori merah atau berisiko sangat tinggi, 31 persen kategori kuning atau berisiko sedang, dan 50 persen kategori hijau atau berisiko ringan.

“Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial,” kata Igun Gunawan, Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial dalam keterangannya, Selasa 25 Agustus 2026.
Bagi korban kategori merah, penanganan dilakukan oleh tim psikolog dari universitas serta ahli yang tergabung dalam tim penanganan bencana guna memberikan pendampingan atas dampak traumatis berat.
Sementara korban kategori kuning dan hijau mendapatkan pendampingan melalui Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreasional, serta pemulihan fungsi sosial.
Sebagian warga diketahui memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami pada 1992 yang berpotensi muncul kembali saat terjadi gempa susulan.

“Karena sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada yang kembali mengalami keterkejutan, kecemasan atau ketakutan. Karena itu, kami memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar mereka mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika merasa cemas atau takut,” ujar Igun.
Selain stabilisasi dan grounding, para korban bencana juga diberikan edukasi serta latihan mengenai langkah penyelamatan diri mandiri.
Layanan psikososial dilaksanakan melalui kegiatan harian terprogram di lokasi pengungsian. Aktivitas dimulai pukul 06.00 WITA dengan senam pagi bersama warga, relawan, TNI, dan Polri, dilanjutkan sarapan serta kegiatan bersih-bersih lingkungan.
Pendampingan anak, aktivitas rekreasional, dan PFA difokuskan pada pukul 10.00–12.00 WITA. Sesi sore pukul 14.00–16.00 WITA diperuntukkan bagi perempuan dewasa, ibu hamil, menyusui, serta lansia.
“Ada layanan rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur,” kata Igun.
Kegiatan anak-anak berlanjut hingga malam hari, mencakup Magrib Mengaji di musala darurat bagi anak-anak beragama Islam serta Sekolah Minggu bagi yang beragama Katolik. Layanan pendampingan ini terus diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan pengungsi di lapangan.










