TVRINews, Jakarta
Dalam rangkaian ajang INNOPROM 2026 di Rusia, Indonesia dan Kazakhstan resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama industri. Penandatanganan tersebut dilakukan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, dengan Menteri Industri dan Konstruksi Republik Kazakhstan, Ersaiyn Načaspaev.
Kesepakatan ini menjadi tonggak penting bagi kedua negara untuk memperkuat kemitraan ekonomi, meningkatkan investasi, serta mengintegrasikan rantai pasok industri di kawasan Asia Tengah dan Eurasia.
Menperin Agus Gumiwang menegaskan bahwa Kazakhstan dipandang sebagai mitra strategis bagi Indonesia.
"Indonesia memandang Kazakhstan sebagai pintu masuk yang potensial bagi produk industri Indonesia ke pasar Eurasia yang lebih luas," ujar Menperin, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Optimisme ini didukung oleh tren perdagangan yang terus menanjak. Pada periode Januari–April 2026, total perdagangan nonmigas kedua negara tercatat sebesar USD 138 juta, meningkat tajam 62,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
*Fokus Kerja Sama Industri*
MoU yang disepakati mencakup cakupan yang luas untuk mempercepat hilirisasi dan nilai tambah industri, di antaranya:
* Pengembangan Sektor Manufaktur: Proyek investasi bersama di bidang industri mesin, otomotif, metalurgi, dan pengolahan mineral hilir.
* Transfer Teknologi & SDM: Pertukaran teknologi, pelatihan bersama bagi sumber daya manusia, serta pengembangan rantai pasok industri.
* Kolaborasi Bisnis: Pembentukan usaha patungan (joint venture), lokalisasi produksi, hingga pengembangan kawasan industri.
* Forum Bisnis: Penyelenggaraan dialog rutin antarperusahaan untuk memperkuat hubungan B2B (business-to-business).
*Implementasi I-EAEU FTA*
Selain kerja sama bilateral, pertemuan ini juga membahas tindak lanjut dari Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang telah ditandatangani pada 21 Desember 2025. Perjanjian ini saat ini tengah dalam proses ratifikasi dan diharapkan menjadi katalis utama dalam meningkatkan arus perdagangan serta investasi setelah proses tersebut rampung.
"Perjanjian tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan perdagangan, investasi, dan kerja sama industri kedua negara," tambah Menperin.
Sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026, Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk menampilkan produk manufaktur unggulan nasional di Paviliun Indonesia.
Pemerintah berharap kesepakatan ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi segera diimplementasikan melalui proyek-proyek konkret yang menguntungkan pelaku industri di kedua negara.










