TVRINews, Jakarta
Gempa bumi Magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, berdampak pada warga satuan pendidikan. Kemendikdasmen mencatat tujuh warga satuan pendidikan meninggal dunia, terdiri dari enam peserta didik dan satu guru.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. Kemendikdasmen juga memastikan pendampingan bagi sekolah yang kehilangan peserta didik maupun tenaga pendidik akibat bencana tersebut.
“Izinkan saya terlebih dahulu menyampaikan duka cita yang mendalam atas tujuh warga satuan pendidikan yang meninggal dunia dalam bencana ini, enam peserta didik dan satu orang guru,” ujar Saryadi dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 14 September 2026.
Data Kemendikdasmen hingga 10 September 2026 menunjukkan, gempa berdampak terhadap 2.447 satuan pendidikan, dengan 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan terdampak langsung. Selain itu, sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan sempat berada di pengungsian, yang terdiri dari 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan.
Sebagai bagian dari dukungan bagi korban, Kemendikdasmen menyalurkan santunan dengan total Rp330 juta. Santunan diberikan sebesar Rp5 juta untuk setiap peserta didik yang meninggal dunia dan Rp10 juta bagi guru yang meninggal dunia. Sementara itu, guru yang mengalami luka mendapat santunan Rp2 juta, sedangkan peserta didik yang mengalami luka memperoleh Rp1 juta.
Kemendikdasmen juga terus melakukan pendampingan terhadap sekolah terdampak, termasuk dukungan psikososial. Sebanyak 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik tercatat membutuhkan pendampingan psikososial pascagempa. Hingga kini, kegiatan tersebut telah dilaksanakan di 75 sekolah bersama mitra.










