TVRINews, Jakarta
Pemerintah menilai program elektrifikasi di desa dan dusun yang belum menikmati akses listrik tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari.
Menurut Qodari, ketersediaan listrik memungkinkan rumah tangga beraktivitas lebih lama dan lebih produktif. Masyarakat juga dapat mengurangi penggunaan sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar yang sebelumnya membutuhkan biaya.
"Listrik memungkinkan rumah tangga beraktivitas lebih lama dan lebih produktif termasuk menjalankan usaha pada malam hari. Dengan demikian, manfaat elektrifikasi tidak hanya merupakan tersedia penerangan tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan rumah tangga," ujar Qodari kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu, 16 September 2026.
Program elektrifikasi tersebut menyasar sekitar 770.000 rumah tangga yang tersebar di 36 provinsi. Selain rumah tangga, keberadaan listrik juga memberikan dampak sosial bagi fasilitas umum, seperti sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, fasilitas ekonomi, dan sarana komunikasi.
"Dengan tersedianya listrik, pelayanan pendidikan dan kesehatan menjadi lebih optimal, ibadah lebih nyaman, usaha masyarakat dapat berjalan lebih lama dan produktif, serta akses komunikasi dan informasi semakin mudah," ucapnya.
*Dorong Aktivitas Ekonomi Desa*
Kemudian Qodari menjelaskan, hadirnya listrik di desa turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Hal itu antara lain terlihat dari perkembangan industri kecil dan mikro, toko kelontong, rumah makan, koperasi, hingga peningkatan aktivitas ketenagakerjaan.
Ia mencontohkan masyarakat di Desa Melebuke, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah pemilik warung kelontong disebut memanfaatkan ketersediaan listrik untuk mengembangkan usaha es batu dan minuman dingin.
"Jika sebelumnya mereka hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp300.000 perbulan dari warung kerontong masing-masing. kini mereka memanfaatkan listrik untuk membuka usaha es batu dan minuman dingin dengan omset mencapai Rp1.000.000 per bulan," jelasnya.
Contoh lainnya terjadi di Tomohon, Sulawesi Utara. Kelompok Tani Kerekeli yang beranggotakan 10 petani bunga krisan memanfaatkan listrik untuk mendukung pencahayaan tanaman.
Qodari menyebut omzet panen kelompok tani tersebut yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat hingga Rp15 juta per bulan. Kelompok tani itu bahkan sempat menembus pasar ekspor ke Singapura.
"Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa listrik dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat," tuturnya.
Menurutnya, penerangan memungkinkan usaha berjalan lebih lama, sementara ketersediaan listrik juga dapat mendukung penggunaan peralatan usaha dan proses produksi pertanian.
Namun, Qodari menyebut dampak ekonomi dari program elektrifikasi akan semakin kuat apabila didukung faktor lain, seperti akses pasar, kondisi jalan yang membaik, lembaga keuangan, infrastruktur, dan komunikasi.










