TVRINews – Jakarta
Kebijakan Hilirisasi dan Sektor Kreatif Jadi Motor Penggerak Penyerapan Tenaga Kerja Nasional.
Pertumbuhan ekonomi nasional tidak boleh sekadar berhenti pada angka statistik di atas kertas. Komitmen tersebut ditegaskan kembali oleh jajaran legislatif seiring dengan akselerasi penanaman modal yang kian masif di berbagai daerah.
Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Lamhot Sinaga, menyatakan bahwa arus modal masuk wajib bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat kelas bawah. Menurutnya, capaian makroekonomi harus mampu diterjemahkan secara nyata ke dalam perluasan kesempatan kerja serta penguatan daya beli rumah tangga.
"Bagi saya, ini adalah arah yang tepat. Pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan usaha rakyat, dan perbaikan kualitas hidup," ujar Lamhot melalui keterangan resminya, Jumat 14 Agustus 2026.
Landasan optimisme tersebut berpijak pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan perekonomian domestik tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini.
Tren positif ini turut didukung oleh realisasi penanaman modal semester I yang mencapai Rp1.010,6 triliun, atau berhasil menyerap lebih dari 1,44 juta tenaga kerja baru di seluruh wilayah nusantara.
Kendati demikian, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar memburu volume angka investasi, melainkan memastikan kualitas dari modal yang ditanamkan. Lamhot menekankan pentingnya kehadiran industri pengolahan yang mampu menghadirkan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus membuka ruang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk ke dalam rantai pasok global.
Peran sektor kerakyatan dinilai sangat krusial mengingat kontribusinya yang dominan terhadap produk domestik bruto serta penyerapan tenaga kerja secara masif. Oleh sebab itu, ekosistem pembiayaan produktif yang ditargetkan mencapai Rp315,11 triliun pada tahun ini harus diiringi dengan pendampingan intensif agar pelaku usaha kecil mampu naik kelas.
Selain sektor industri dan UMKM, integrasi kebijakan turut diarahkan pada pengembangan pariwisata serta ekonomi kreatif. Kombinasi sektor-sektor strategis ini diyakini mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang merata, mulai dari menggerakkan ekonomi perdesaan hingga mendongkrak devisa negara secara berkelanjutan.










