TVRINews, Tokyo
Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah Jepang mendorong warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang, khususnya Muslim, untuk mampu menjaga keseimbangan antara menjalankan ibadah, beradaptasi dengan budaya lokal, dan menaati aturan yang berlaku.
Pesan tersebut disampaikan dalam Tabligh Akbar Safari Dakwah bertema "Harmoni Iman, Ilmu dan Amal di Negeri Sakura" yang digelar PCI Muhammadiyah Jepang bersama Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Tokyo di Balai Indonesia.
Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam kehidupan WNI di Jepang.
Menurutnya, masyarakat Indonesia perlu menghormati hukum dan budaya setempat sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan warga sekitar.
"Menjaga harmoni di tanah rantau mengharuskan WNI dapat beradaptasi dengan budaya lokal, menghormati hukum setempat, dan aktif membangun komunikasi yang baik dengan sesama perantau maupun warga sekitar," ujar Al Aula dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia mengatakan identitas sebagai Muslim Indonesia perlu ditunjukkan melalui perilaku yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.
"Jika kita mengenakan busana yang menunjukkan identitas ke-Islaman tentu harus kita jaga dengan bersikap sesuai ajaran Islam," kata Al Aula.
Al Aula juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban, kebersihan, serta menaati aturan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Menurutnya, WNI di Jepang juga memiliki peran sebagai duta bangsa dalam membangun citra Indonesia.
"KBRI Tokyo senantiasa memberikan dukungan terhadap segenap aktivitas dari komunitas WNI di Jepang. Ada lebih dari 260 ribu warga Indonesia di Jepang dari berbagai latar belakang agama dan aktivitas. Teman-teman semua adalah duta bangsa Indonesia di Jepang," ucap Al Aula.
Sementara, Ketua Panitia Tabligh Akbar Safari Dakwah Moch. Zamzam Rajab Awaluddin mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Muslim Indonesia di Jepang untuk belajar menjalankan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat dengan mayoritas non-Muslim.
"PCI Muhammadiyah Jepang berupaya membantu Muslim Indonesia di Jepang dapat dengan tenang menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik di negeri Sakura sambil tetap menjalani beribadah dengan hati tenang," tutur Al Aula.
Dalam kajian tersebut, Asisten Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustaz Nur Fajri Romadhon menjelaskan adanya kelonggaran dalam pelaksanaan ibadah ketika umat Muslim menghadapi kondisi yang sulit.
Menurutnya, kondisi kehidupan di negara dengan minoritas Muslim dapat memunculkan persoalan fikih yang berbeda dengan negara mayoritas Muslim. Penyesuaian dapat dilakukan selama tetap memperhatikan ketentuan agama dan kondisi yang dihadapi.
"Kalau seandainya situasi sulit maka Islam memberikan kelonggaran. Kalau situasi sudah melonggar maka Islam kembali ke aturan-aturan semula," ujar Nur Fajri.
Ia menekankan umat Muslim tetap memiliki tanggung jawab untuk menjalankan ibadah sekaligus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Sejumlah peserta juga membagikan pengalaman beradaptasi selama tinggal di Jepang. Fani Lupita, pekerja sekaligus mahasiswi yang telah 13 tahun tinggal di Jepang, mengatakan proses adaptasi dilakukan secara bertahap, termasuk dalam menjelaskan kebutuhan ibadah kepada orang-orang di sekitarnya.
"Mungkin di awal saya coba adaptasi dengan lingkungan saya. Jadi pelan-pelan sambil sedikit demi sedikit membuat orang di sekitar kita paham dengan ritme ibadah yang kita jalani," kata Fani.
Pengalaman serupa disampaikan Okvianingsih yang telah 12 tahun bekerja di Jepang. Ia mengatakan keterbatasan tempat ibadah dan akses makanan halal sempat menjadi tantangan.
"Awalnya berat ya. Karena terkait dengan tempat beribadat yang tidak ada di tempat aktivitas saya. Belum lagi soal makanan halal. Tapi Alhamdulillah lambat laun dapat teratasi," tutur Fani.
Tabligh Akbar Safari Dakwah "Harmoni Iman, Ilmu dan Amal di Negeri Sakura" berlangsung pada 1-12 Agustus 2026. Selain Tokyo, kegiatan tersebut digelar di Fukuoka, Yokohama, Osaka, Hiroshima, Kyoto, Nagoya, dan Hokkaido.










