TVRINews, Yogyakarta
Pembacaan teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat menjadi salah satu rangkaian Parade Suara Inklusi di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan Indonesia dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Prosesi tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), dengan melibatkan penyandang disabilitas dan berbagai elemen masyarakat.
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X turut hadir dalam prosesi pembacaan teks Proklamasi tersebut bersama perwakilan penyandang disabilitas.
Pembacaan dilakukan secara simbolis dengan bahasa isyarat di hadapan para peserta dan tamu undangan.
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang singkat.
Jakarta 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia.”
Pembacaan Proklamasi dengan bahasa isyarat disambut antusias para peserta. Prosesi tersebut sekaligus menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan dan persatuan merupakan hak seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
Perwakilan elemen masyarakat sekaligus Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang setara bagi seluruh masyarakat.
“Keberagaman adalah suatu anugerah yang melekat pada bangsa ini membuat negeri akan warna yang menghiasi. Bukan hanya sekadar uluran tangan dan tangan yang di atas lebih daripada itu adalah sebuah upaya pendekatan untuk menciptakan lingkungan yang terbuka dan merata bagi semua individu dengan memegang penuh prinsip utama yaitu kesetaraan tanpa diskriminasi dan kesetaraan dalam keberagaman,”kata Diah dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui kanal YouTube kemdikdasmen, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia berharap Parade Suara Inklusi dari Yogyakarta dapat menjadi gerakan yang mendorong kesetaraan dan penghormatan terhadap keberagaman di seluruh Indonesia.
“Semoga suara inklusi ini akan bergaung berkembang dan menyuarakan akan pentingnya kesetaraan dalam keberagaman dan mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa ini,”jelasnya.
Menurut Diah, pembacaan Proklamasi menggunakan bahasa isyarat bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pesan bahwa penyandang disabilitas dan seluruh kelompok masyarakat memiliki ruang yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong sekaligus membangun Indonesia yang inklusif, setara, dan bebas dari diskriminasi.










