TVRINews, Jakarta
Menlu Sugiono dan Menlu Chili sepakat perkuat hilirisasi mineral kritis serta perdagangan bilateral di Jakarta.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Chili memasuki babak baru yang lebih strategis. Optimalisasi perjanjian perdagangan komprehensif atau Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) ditegaskan sebagai instrumen utama dalam menerjemahkan kerja sama ekonomi kedua negara secara lebih konkret.
Dalam pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri Chili Francisco Pérez Mackenna di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin. Pertemuan tingkat tinggi ini sekaligus menandai momentum penting dalam memperingati enam dekade hubungan diplomatik Jakarta dan Santiago.
Dalam diskursus strategis tersebut, kedua menteri menyoroti posisi strategis masing-masing negara sebagai produsen utama komoditas mineral dunia. Sektor mineral kritis diidentifikasi sebagai katalisator utama untuk membangun kolaborasi hilirisasi industri yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, ketahanan rantai pasok global, serta penerapan standar keberlanjutan lingkungan.
"Optimalisasi pemanfaatan IC-CEPA oleh pelaku usaha menjadi kunci untuk menerjemahkan kemitraan ekonomi kedua negara yang lebih konkret," ujar Kepala diplomasi RI tersebut dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, Selasa 21 Juli 2026, diproyeksikan mampu mendongkrak ekspansi bisnis yang memberikan keuntungan timbal balik bagi para pelaku industri di kedua belah pihak.
Selain sektor pertambangan dan perdagangan bilateral, agenda pertemuan juga memperluas cakupan kolaborasi ke ranah riset ilmu pengetahuan, sektor pertanian, serta teknologi kesehatan. Perluasan cakupan kerja sama ini merefleksikan komitmen politik kedua pemerintahan untuk menghadirkan dampak positif yang terukur bagi masyarakat luas.
Di panggung multilateral, perjumpaan diplomatik ini mempertegas soliditas poros Global South. Jakarta dan Santiago memandang pentingnya menyamakan persepsi guna mendorong arsitektur tatanan global yang lebih berkeadilan, inklusif, serta berkelanjutan di tengah dinamika geopolitik internasional yang sarat ketidakpastian.










