TVRINews, Bogor
Perpaduan seni tradisional dan komedi mewarnai peringatan Hari Wayang Nasional 2026 di Balai Kota Bogor, Jawa Barat. Melalui pertunjukan Wayang GOKUL (Wayang Golek dan Wayang Kulit), Kementerian Kebudayaan menghadirkan konsep pertunjukan yang lebih segar untuk mendekatkan warisan budaya Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pergelaran yang diselenggarakan melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi tersebut menghadirkan lakon Karna Tanding dengan melibatkan empat dalang dari Dinasti Sunandar. Pertunjukan semakin semarak dengan kehadiran sejumlah seniman komedi dan pemeran, di antaranya Sule, Nunung, dan Kiki Juliar.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kekayaan budaya Indonesia merupakan potensi besar yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, keragaman tradisi yang dimiliki Indonesia tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebudayaan dan perekonomian daerah.
Ia menilai wilayah Bogor yang merupakan bagian dari Tanah Sunda memiliki kekayaan tradisi yang beragam, termasuk seni pertunjukan wayang dengan berbagai karakter dan gaya penyajiannya.
"Kita punya kekayaan budaya luar biasa. Kekayaan budaya kita itu mungkin yang terkaya di dunia, atau super power yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Termasuk budaya tradisi yang ada di Tanah Sunda," ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Sabtu, 7 November 2026.
Ia menjelaskan, seni wayang memiliki beragam bentuk, mulai dari wayang golek Sunda hingga wayang kulit. Setiap jenis memiliki kekhasan tersendiri, baik dari segi gaya pertunjukan maupun cerita yang dibawakan.
Lebih dari sekadar hiburan, Fadli menegaskan bahwa wayang menyimpan nilai pendidikan dan pesan moral yang relevan bagi kehidupan masyarakat. Cerita yang disampaikan dalang menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai kebaikan, keteladanan, serta pembentukan karakter.
"Wayang merupakan bukan hanya hiburan dan tontonan, tapi di dalam cerita wayang selalu ada tuntunan, karena dalang di sini adalah yang menjadi pusat perhatian. Dalang ini menjadi teladan yang memberikan cerita-cerita di dalamnya ada pesan moral," ungkapnya.
Pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pelestarian seni tradisi tersebut.
Pemerintah kemudian menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018. Peringatan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap wayang sekaligus momentum untuk memperkuat upaya pelestariannya.
Dalam perayaan tahun ini, Fadli Zon juga memberikan apresiasi kepada empat dalang Dinasti Sunandar atas dedikasi mereka dalam menjaga keberlangsungan seni pertunjukan wayang. Ia berharap keahlian dan pengetahuan para dalang dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga tradisi wayang tidak berhenti pada satu generasi saja.
Pertunjukan Wayang GOKUL menjadi salah satu pendekatan kreatif untuk memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. Perpaduan wayang dengan sketsa komedi diharapkan mampu menghadirkan pengalaman menonton yang menarik tanpa menghilangkan pesan dan karakter asli budaya tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, serta anggota DPD RI asal Jawa Barat Alfiansyah Komeng. Sejumlah seniman, budayawan, komunitas seni, dan jajaran pemerintah daerah juga hadir dalam pergelaran tersebut.
Melalui peringatan Hari Wayang Nasional 2026, Kementerian Kebudayaan mendorong agar seni pertunjukan wayang semakin dikenal dan mendapat tempat di tengah perkembangan zaman. Kolaborasi antara seniman tradisional dan pelaku seni modern diharapkan menjadi jembatan untuk mempertemukan warisan budaya dengan minat generasi muda.










