TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa keamanan siber merupakan fondasi utama yang harus diperkuat untuk mendukung transformasi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Riefky, visi transformasi digital yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto tidak akan berjalan optimal tanpa sistem keamanan siber yang kuat. Ia menilai keamanan siber kini tidak lagi sekadar aspek teknis, melainkan menjadi fondasi kepercayaan bagi seluruh aktivitas ekonomi digital.
"Visi sebesar ini tidak bisa berdiri tanpa cyber security yang kokoh. Cyber security bukan lagi sekadar komponen teknis. Ia adalah fondasi kepercayaan yang menopang seluruh aktivitas ekonomi digital, perlindungan data, integritas platform, perlindungan kekayaan intelektual, dan keberlangsungan usaha para pegiat ekraf," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 6 Juni 2026.
Kemudian Riefky menjelaskan, untuk mewujudkan target Indonesia menjadi salah satu dari 20 kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045, terdapat tiga prasyarat utama yang harus dipenuhi. Ketiganya meliputi pembangunan platform digital yang andal dan aman, percepatan transformasi digital di seluruh sektor, serta pengembangan talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global.
Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi kehadiran Wolvesight sebagai bukti kemampuan talenta Indonesia dalam menghasilkan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan solusi digital yang kompetitif.
"Yang lebih membanggakan, inovasi ini lahir dari pengalaman, kompetensi, dan kreativitas anak bangsa yang memahami kebutuhan pasar sekaligus tantangan keamanan digital yang dihadapi berbagai sektor industri. Inilah bentuk nyata kontribusi ekonomi kreatif dalam memperkuat kedaulatan digital Indonesia," ucapnya.
Sebagai informasi, Wolvesight merupakan platform keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) karya anak bangsa, yang dikembangkan untuk membantu organisasi melakukan penetration testing dan mengidentifikasi celah keamanan secara lebih cepat dan akurat.
Teknologi ini diklaim menjadi yang pertama di Asia Tenggara, yang menggabungkan teknologi multi-agent AI dan evidence-first validation untuk mendukung pengujian keamanan sistem industri dan perbankan.
Peluncuran Wolvesight sejalan dengan upaya Kementerian Ekonomi Kreatif dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis digital yang aman, tangguh, dan berdaulat secara teknologi. Pemerintah berharap semakin banyak inovasi keamanan siber karya anak bangsa yang mampu menjawab kebutuhan pasar, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di era ekonomi digital.










