TVRINews, Yogyakarta
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia memiliki kontribusi besar dalam penelitian sejarah evolusi dan kebudayaan manusia di kawasan Indo-Pasifik. Berbagai penemuan arkeologi di Nusantara menjadi bukti penting dalam memperkaya pemahaman dunia mengenai perjalanan panjang peradaban manusia.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat memberikan sambutan dalam pembukaan The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA). Kongres yang berlangsung pada 1–7 November 2026 tersebut mengusung tema "Tomorrow and Beyond" dan diikuti 850 praktisi dari 42 negara yang bergerak di bidang arkeologi, antropologi, paleoantropologi, sejarah, dan linguistik.
"Untuk memahami masa depan, kita harus terlebih dahulu memahami kedalaman dan keberagaman masa lalu. Dunia yang kita tinggali saat ini terbentuk dari perjalanan panjang banyak generasi, jauh sebelum sejarah mulai ditulis," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Selasa, 3 November 2026.
Kemudian Fadli menjelaskan, sejumlah temuan arkeologi di Indonesia telah memberikan perspektif baru mengenai perkembangan ekspresi artistik dan perjalanan manusia di kawasan kepulauan Asia Tenggara.
Di antaranya, lukisan cadas di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang berusia setidaknya 67.800 tahun, serta lukisan gua di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang berusia setidaknya 51.200 tahun.
Temuan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam penelitian prasejarah dunia, khususnya dalam memahami evolusi dan perkembangan kebudayaan manusia.
Lebih lanjut, Fadli Zon mengajak komunitas akademik internasional untuk memperluas perspektif dalam mengkaji sejarah manusia dengan memberikan perhatian lebih besar terhadap masyarakat kepulauan dan lingkungan maritim.
Menurutnya, perjalanan sejarah manusia di kawasan Indo-Pasifik tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif kontinental. Jaringan migrasi, interaksi, serta pertukaran budaya antarpulau juga menjadi aspek penting dalam memahami perkembangan peradaban di kawasan tersebut.
Perspektif ini dinilai membuka peluang pengkajian lebih lanjut mengenai posisi Nusantara dalam perjalanan sejarah peradaban dunia.
Kongres IPPA ke-23 juga menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat internasional. Selain menjadi tuan rumah, Indonesia memiliki kesempatan untuk mempromosikan kekayaan prasejarah dan potensi pariwisata warisan budaya kepada komunitas global.
Presiden IPPA, Anggraeni, menyampaikan bahwa kongres ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran hasil penelitian, tetapi juga membuka kesempatan bagi para praktisi, profesional, dan peneliti untuk membangun interaksi, memperluas kolaborasi lintas disiplin, serta memperkuat kerja sama antar institusi dan antarnegara.
Melalui penyelenggaraan Kongres IPPA ke-23, Kementerian Kebudayaan berharap kekayaan prasejarah Indonesia semakin dikenal dan mendapat perhatian lebih luas di tingkat internasional.
Forum ini sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam memperkaya pemahaman dunia mengenai evolusi manusia, perkembangan kebudayaan, dan perjalanan panjang peradaban di kawasan Indo-Pasifik.









