TVRINews - Jakarta
Lonjakan harga pangan bergejolak, khususnya komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat, mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen secara bulanan pada Oktober 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi bulanan (month-to-month) pada Oktober 2026 berada di level 0,22 persen. Perkembangan ini merefleksikan pergerakan naik pada Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 di penghujung bulan berikutnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa sektor makanan, minuman, serta tembakau menjadi motor utama penggerak kenaikan indeks tersebut dengan catatan inflasi mencapai 0,51 persen dan memberikan andil sebesar 0,15 persen.
"Kelompok pengeluaran pendorong inflasi bulanan terbesar pada makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 0,51%," ungkap Ateng dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin 2 November 2026,
Lebih lanjut, tekanan terbesar pada kelompok pangan tersebut bersumber dari komoditas hortikultura. Cabai merah tercatat memberikan andil terbesar yakni 0,13 persen, disusul oleh cabai rawit sebesar 0,05 persen, serta tomat sebesar 0,04 persen. Sementara itu, komoditas sayuran hijau seperti sawi hijau dan sawi putih masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen.
Di luar sektor makanan, pergerakan harga juga terjadi pada sektor transportasi udara yang mencatatkan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Di sisi lain, tren pelemahan harga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi sebesar 0,06 persen, dengan komoditas emas perhiasan menjadi faktor penekan utama melalui andil deflasi 0,01 persen.
Berdasarkan pengelompokan komponen, seluruh kategori pembentuk IHK pada Oktober 2026 menunjukkan tren kenaikan, yang meliputi kelompok komponen inti, harga diatur pemerintah (administered prices), serta harga bergejolak (volatile foods).
Kenaikan tertinggi dibukukan oleh kelompok harga bergejolak dengan inflasi mencapai 0,77 persen dan andil 0,13 persen, yang kembali disokong oleh fluktuasi harga komoditas pertanian seperti cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, serta sawi putih. Adapun komponen inti mencatatkan tingkat inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil 0,07 persen, tanpa adanya komoditas spesifik yang mendominasi ambang batas minimum kontribusi sebesar 0,01 persen.









