TVRINews, Banjarbaru
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rifki Hakim memilih meninggalkan peluang emas menjadi kepala sekolah reguler demi mengabdi di Sekolah Rakyat. Keputusan itu diambil karena ia percaya pendidikan menjadi jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan.
Rifki mengaku sempat berada dalam dilema saat namanya masuk dalam daftar calon Kepala Sekolah Rakyat. Di waktu yang hampir bersamaan, ia juga mendapat panggilan untuk melengkapi administrasi sebagai calon kepala sekolah reguler di Kalimantan Selatan.
"Ada dilema di situ. Ada dilema yang membuat saya agak ragu-ragu menjadi Kepala Sekolah Rakyat," ujar Rifki dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari lama Kemensos, Rabu, 27 Mei 2026.
Awalnya, Rifki memperoleh informasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan mengenai seleksi calon kepala Sekolah Rakyat. Ia kemudian mengikuti serangkaian tahapan mulai dari wawancara, psikotes hingga tes TOEFL sebelum akhirnya lolos dan mengikuti retret kepala sekolah di Jakarta.
Keraguan sempat muncul bukan hanya dari dirinya, tetapi juga dari keluarga dan kolega yang mempertanyakan masa depan Sekolah Rakyat. Namun, keyakinannya tumbuh setelah mengikuti retret dan memahami tujuan program pendidikan gagasan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Menurut Rifki, Sekolah Rakyat hadir untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak miskin dan miskin ekstrem agar memiliki masa depan yang lebih baik.
"Saya terus terang, sekarang bukan lagi memikirkan karier. Anak-anak ini sudah dititipkan ke saya, jadi sudah merasa ini tanggung jawab saya, dan saya harus membawa mereka sampai benar-benar jadi orang," ucapnya.
Kemudian, Rifki juga mengingat pesan Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat membuka retret kepala Sekolah Rakyat di Jakarta. Dalam kesempatan itu, para kepala sekolah diminta menjadi "lilin" bagi orang-orang yang hampir menyerah dalam hidup.
Pesan tersebut semakin memantapkan langkah Rifki untuk meninggalkan zona nyaman demi mengabdi di Sekolah Rakyat.
SRT 9 Banjarbaru saat ini membina 125 siswa jenjang SMP dan SMA. Para siswa berasal dari latar belakang berbeda, mulai dari anak putus sekolah hingga mereka yang sebelumnya harus bekerja di usia sekolah.
Menurut Rifki, tantangan terbesar bukan hanya soal akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan siswa. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesabaran bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan.
"Jadi kunci dari semua keberhasilan adalah kesabaran," imbuhnya.
Setelah hampir dua bulan berjalan, Rifki mulai melihat perubahan positif pada para siswa. Anak-anak yang sebelumnya cenderung acuh kini mulai lebih peduli terhadap lingkungan, menghormati orang yang lebih tua, hingga terbiasa menyapa dan berjabat tangan.
Bagi Rifki, konsep sekolah berasrama dan gratis menjadi terobosan penting untuk memuliakan masyarakat miskin melalui pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Ia berharap pemerintah tidak hanya memperbanyak jumlah Sekolah Rakyat di berbagai daerah, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang sudah beroperasi.
"Kalau memang ini jalan yang benar, tidak mungkin saya tersia-siakan. Tujuannya membantu Pak Presiden memutus rantai kemiskinan yang ada di Indonesia," tuturnya.










